<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>binanurani.com &#187; Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam</title>
	<atom:link href="http://binanurani.com/category/enam-syarat-menuntut-ilmu-agama-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://binanurani.com</link>
	<description>Majelis Ta'lim Bina Nurani Istiqomah &#124; Generasi Cinta Quran &#124; Menuju Islam Kafah &#124; Bicara Lepas &#124; Berbagi Manfaat Kepada Sesama</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 04:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-5 : Irsyadu Ustadzi = Petunjuk Guru</title>
		<link>http://binanurani.com/norma-etika-ustadz/</link>
		<comments>http://binanurani.com/norma-etika-ustadz/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 22:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk Guru dalam Mengaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[Setiap proses belajar mengajar di institusi / lembaga pendidikan manapun tentulah memerlukan bimbingan dari seorang guru. Keberadaannya merupakan salah satu faktor dominan sebagai penentu keberhasilan tujuan dasar dari pembelajaran. Dengan dibimbing / dipandu seorang guru maka proses pembelajaran dapat terarah dan terfokus.
Meskipun tidak sedikit orang mampu mendapatkan suatu ilmu baru hasil dari uji coba, autodikdak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 116px"><img style="margin: 0px 5px;" src="http://img294.imageshack.us/img294/5548/ulama.jpg" alt="Dengan pengetahuan ilmu dan amalan, Ustadz laksana penerang bagi insan yang belajar mencari jalan kebenaran hidup berlandaskan al-Quran dan Sunah." width="106" height="106" /><p class="wp-caption-text">Dengan pengetahuan ilmu dan amalan, Ustadz laksana penerang bagi insan yang belajar mencari jalan kebenaran hidup.</p></div>
<p>Setiap proses belajar mengajar di institusi / lembaga pendidikan manapun tentulah memerlukan bimbingan dari seorang guru. Keberadaannya merupakan salah satu faktor dominan sebagai penentu keberhasilan tujuan dasar dari pembelajaran. Dengan dibimbing / dipandu seorang guru maka proses pembelajaran dapat terarah dan terfokus.</p>
<p>Meskipun tidak sedikit orang mampu mendapatkan suatu ilmu baru hasil dari uji coba, autodikdak, namun dengan keberadan orang yang sudah lebih dulu mengetahui berdasar pengalaman empiris maka proses ”transfer ilmu ” dapat berjalan dengan efektif dan efisien.</p>
<p>Mengutip pernyataan Anne Ahira, internet marketer kelas dunia berasal dari Kabupaten Bandung Jawa Barata, sekaligus pendiri Asian Brain Internet Marketing Centre, bahwa</p>
<p><em>“Tiga Faktor Utama Penyebab Banyak Orang Gagal Dalam Menjalankan Bisnis Online</em></p>
<p><em>Yang PERTAMA: adalah karena dia tidak punya *guru* yang<br />
mengarahkan tentang apa yang harus dilakukan.</em></p>
<p><em>Guru yang bisa memberikan penjelasan detil, setahap demi<br />
setahap, dan memberitahu memulainya harus dari mana. </em><em>“</em></p>
<p>Nah , itulah pendapat seorang pakar pembelajaran yang tidak perlu diragukan lagi, banyak muridnya sudah berhasil.</p>
<p>Bersambung&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/norma-etika-ustadz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-4 : Bulghotun = Bekal, Biaya</title>
		<link>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-4-bulghotun/</link>
		<comments>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-4-bulghotun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 11:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[My Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Syarat Mencari Ilmu Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[Segala macam kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan sukses apabila disertai dengan kesungguhan dalam mengelolanya. Biasa terdengar ungkapan di masyarakat “ uang memang bukanlah segala-galanya nya, namun tanpa uang, segalanya akan susah”, nampaknya ungkapan tersebut ada benarnya.  Kelancaran suatu kegiatan sulit untuk dipisahkan dengan pembiayaan.
Sangat terasa memang zaman sekarang serba uang, patutlah kita simak sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala macam kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan sukses apabila disertai dengan kesungguhan dalam mengelolanya. Biasa terdengar ungkapan di masyarakat “<strong> uang memang bukanlah segala-galanya nya, namun tanpa uang, segalanya akan susah</strong>”, nampaknya ungkapan tersebut ada benarnya.  Kelancaran suatu kegiatan sulit untuk dipisahkan dengan pembiayaan.</p>
<p>Sangat terasa memang zaman sekarang serba uang, patutlah kita simak sebuah hadits riwayat At-Tobroni “<span style="color: #000080;">Manakala suatu saat pada akhir zaman bagi manusia tidak boleh tidak (pasti) memerlukan beberapa dirham dan beberapa dinar untuk menetapi (menjalani) kehidupan dunia dan kehidupan agama”.</span></p>
<p>Mari kila lihat ke belakang sebentar pada masa Rosululloh SAW, dimana dikisahkan sebuah keluarga kecil seorang sohabat bernama Tsa’labah bersama seorang istri yang hanya mempunyai satu lembar kain. Setiap selesai solat berjamaah bersama Rosululloh SAW, Tsa’labah senantiasa bergegas pulang.</p>
<p>Demikian berulang-kali sehingga menarik perhatian Rosululloh SAW, setelah dipertanyakan perihal tersebut. Dijawabnya bahwa ketika Tsa’labah solat ber<span id="more-970"></span>sama Rosululloh SAW, maka istrinya menunggu di rumah. Tsa&#8217;labah segera bergegas pulang seusai salam karena istrinya menunggu kain yang dipakainya untuk mengerjakan solat agar tidak terlambat..</p>
<p><em>MasyaAlloh !</em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Sebuah keluarga kecil terdiri dari suami dan istri hanya punya satu potong kain yang layak pakai.<em> </em></span></p>
<p>Pada masa itu bisa mungkin saja dapat berjalan. Namun sulit rasanya membayangkan kalau hal itu terjadi pada masa sekarang, dimana nilai persaingan hidup yang demikian tinggi, segala barang dan jasa penunjang kehidupan mempunyai nilai tukar / nilai jual yang sangat berarti.</p>
<p>Mengaji ilmu agama dan segala kegiatan yang berhubungan dengan ibadah adalah bagian dari  kehidupan yang sulit untuk dipisahkan dengan pembiayaan.</p>
<p>Logika yang sederhana, teman-teman kita yang berangkat mengikuti pengajian Quran Hadits secara rutin, terutama yang rumahnya jauh dari majelis ta’lim, maka untuk kelancaran jalannya sepeda motor atau mobil, mereka harus membeli bensin. Kalaupun tidak memiliki kendaraan pribadi maka naik kendaraan umum adalah pilihan ke-dua. Terlebih untuk sarana penunjang materi pengajian mereka juga mengeluarkan biaya untuk membeli Kitab Suci Al-Quran dan Kitab Al-Hadits.</p>
<p>Bagi teman kita yang ingin belajar ke pondok pesantren, maka makin besar pula dana yang musti dikeluarkan.</p>
<p>Seorang laki-laki dari Madinah, demi menuntut ilmu satu potong al-Hadits mereka sanggup melakukan <a href="http://binanurani.com/?p=585" target="_blank">ekspedisi ke Damaskus, Syria.</a> Sebuah perjalanan panjang hingga 30 hari dengan jarak tempuh mendatar hampir 900 kilo meter. Tentu tidak lepas dari pengeluaran dana untuk perbekalan / logistic, transportasi dll.</p>
<p>Sedangkan ilmu agama meskipun<span style="color: #008000;"> <a href="http://binanurani.com/?p=234" target="_blank"><strong><span style="text-decoration: underline;">nilainya tinggi tak ternilai </span></strong></a> </span>namun tidak boleh diperjualbelikan / ditukar dengan nilai nominal tertentu.</p>
<p>Untuk pelaksanaan pengajian online di <a href="http://www.madrasahonline.com/index.html" target="_blank">madrasahonline.com</a> , maka biaya yang mungkin dikeluarkan oleh para peserta kursus/pengajian adalah sebatas untuk membeli / memesan kitab al-Quran, kitab al-Hadits maupun e-book penunjang kelancaran pelaksanaan pengajian.</p>
<p>Hal ini tentu dimaklumi, para peserta pengajian yang langsung mengikuti secara off line, mereka juga mengeluarkan biaya untuk membeli kitab-kitab sebagai pendukungnya, sebagaimana orang membeli alat, sarana ibadah seperti sarung, mukenah untuk solat apalagi orang akan menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Sebenarnya kalau kita kaji lebih jauh lagi, kita ini hidup di dunia sudah diberikan banyak nikmat antara lain , kesehatan, pikiran yang cerdas, dan juga rejeki.</p>
<p>Nah ini semua baik pemberian rejeki / harta kelak di akhirat, kita akan diminta pertanggungjawaban dari Alloh SWT. Bagaimana akibatnya kalau kita tidak dapat menggunakan dengan benar sesuai dengan kehendakNYA?</p>
<p>Saudaraku yang saya hormati,</p>
<p>Mari kita perhatikan hadits Kitabu Sifatil Jannati wa Nar hal 56-57. fii Muchtarul Adilah. Dalam hadits itu bersabda Rosululloh SAW : <span style="color: #000080;">&#8221; Didatangkanlah anak Adam (seluruh manusia) pada hari kiyamat sebagaimana anak kambing ( berjubel saking banyaknya), mereka dihentikan di hadapan Alloh, kemudian Alloh SWT berfirman kepada mereka &#8220;</span> <span style="color: #008000;">Aku telah memberimu harta, memberimu banyak nikmat (di dunia) lalu apa yang sudah kau perbuat (dengan semua itu)?</span>. manusia menjawab &#8221; <span style="color: #800000;">Wahai tuhanku, aku telah mengumpulkan harta itu, aku telah mengembangkan harta itu, maka aku tinggalkan lebih banyak lagi, untuk itu wahai Alloh kembalikanlah kami (ke dunia ) kami akan menghadapMU kembali dengan membawa semua harta itu.</span> Alloh Berfirman lagi &#8221; <span style="color: #008000;">tunjukkanlah apa yang sudah kamu perbuat (dengan harta itu)</span>&#8221; hamba menjawab lagi <span style="color: #800000;">Wahai tuhanku, aku telah mengumpulkan harta itu, aku telah mengembangkan harta itu. maka aku tinggalkan lebih banyak lagi, untuk itu wahai Alloh kembalikanlah kami (ke dunia) kami akan menghadapMU kembali dengan membawa semua harta itu</span>. Maka ketika hamba tidak dapat menunjukkan (dengan semua pemberian Alloh untuk beriman dan beramala solih) maka dilemparlah hamba itu ke dalam neraka.</p>
<p>Kalau kita sadari dengan benar, kita ini lahir ke dunia dalam keadaan bayi yang lemah tidak berdaya dan tidak punya apa-apa, kemudian Alloh memberi kekuatan, pikiran yang normal dan cerdas, kalau dapat bekerja sehingga mendapat rejeki . Itu semua pemberian Alloh. Kita harus faham semua yang kita miliki ini harta, jabatan, pangkat bahkan nyawa sekalipun hakikatnya adalah pinjaman yang setiap saat diminta kembali, kita tidak dapat menolaknya. <a href="http://binanurani.com/ucapan-ketika-musibah/" target="_blank"><strong>In-na lillahi wa in-na ilaihi roji&#8217;un. </strong></a></p>
<p>Nah termaktub dalam hadis di atas , orang dilempar ke neraka karena selama hidupnya diberikan nikmat yang banyak oleh Alloh tetapi tidak menyadari , sehingga semua pemberian nikmat juga hartanya tidak digunakan untuk <strong>hidup menetapi jalan yang benar</strong> sebagaimana perintah Alloh SWT yang menghendaki kehidupan ini.</p>
<p>Tentu kita tidak ingin bernasib celaka di akhirat kelak, bukan!</p>
<p>Lalu bagaimana caranya?</p>
<p>Ya, pergunakan kesempatan hidup yang hanya sekali dan sebentar ini sebaik-baiknya, segala pemberian Alloh kita curahkan untuk melancarkan dan mengembangkan agama Alloh, kita jangan sayang, bakhil untuk pengeluaran dana yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, menginfakan sebagian harta demi tegaknya syiar agama Alloh.</p>
<p>Alloh SWT berjanji dan sudah dipatenkan dalam surah Al-Muzamil (73) ; 20 “<span style="color: #008000;"> …..wa ma tuqod-dimu li anfusikum min khoirin tajidu hu ‘indallohi , huwa khoiron wa a’dhoma aj’ron, wastaghfirulloha in-nalloha ghofurun rohiim”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">…..Dan apapun yang kamu dahulukan untuk dirimu dari suatu kebaikan (mengeluarkan dana ke sabilillah) maka akan kamu jumpai di sisi Alloh (di akhirat) , itu adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya. Dan mintalah ampun kepada Alloh sesungguhnya Alloh maha oengapun dan maha penyayang”.</span></p>
<p>Mengeluarkan dana untuk membeli kitab suci A-Quran dan Hadits serta bahan pendukung lainnya dengan niyat untuk memahamkan diri dalam ilmu agama Alloh SWT adalah termasuk <a href="http://binanurani.com/?p=612" target="_blank">pembelaan (jihad) di jalan Alloh (sabilillah)</a>. Karena hakikatnya “jihad” adalah membela / memperjuangkan tegaknya agama Alloh SWT yang sepatutnya diawali dari diri sendiri.</p>
<p>Bukankah kita bersyukur membela agama Alloh SWT dengan belajar mengaji untuk diri sendiri , ternyata Alloh sudah menilai sebagaimana sebuah perjuangan, biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan agama Alloh akan diberikan imbalan /pahala yang berlipat ganda di akhirat.</p>
<p>Dengan hidup menetapi perintah Alloh menjadi orang Islam yang kaf-fah ( totalitas) &lt; surah Al-Baqoroh (2) ;208&gt;, diawali dengan niyat dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, maka dengan sendirinya harta kita pun menjadi barokah, segalanya yang kita miliki di dunia ini menjadi barokah semua.</p>
<p>Kita berharap menemukan <a href="HKN Ke-2 “Keseimbangan Hidup Duniawi dan Ukhrawi”" target="_blank">keseimbangan hidup duniawi dan ukhrowi</a>.</p>
<p>Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-4-bulghotun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-3 : Ishtibarun</title>
		<link>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-3-ishtibarun/</link>
		<comments>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-3-ishtibarun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 23:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MATERI KURSUS]]></category>
		<category><![CDATA[Shobar Dalam Mengkaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Ishtibarun : Shobar, Teliti

Mendalami agama dengan mengkaji pengertian/hikmah yang bersumber pada al-Quran dan al-Hadis berarti juga harus punya mentalitas kesabaran yang baik.
Pengertian yang baru saja kita dapatkan dengan mengikuti pendalaman makna beserta keterangan dari pengajian di majelis ta’lim / secara privat boleh jadi merupakan suatu hal yang baru atau bahkan pengertiannya berlawanan dengan pengertian yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Ishtibarun : Shobar, Teliti<br />
</strong></em></p>
<p>Mendalami agama dengan mengkaji pengertian/hikmah yang bersumber pada al-Quran dan al-Hadis berarti juga harus punya mentalitas kesabaran yang baik.</p>
<p>Pengertian yang baru saja kita dapatkan dengan mengikuti pendalaman makna beserta keterangan dari pengajian di majelis ta’lim / secara privat boleh jadi merupakan suatu hal yang baru atau bahkan pengertiannya berlawanan dengan pengertian yang selama ini dipahami.</p>
<p>Kalau ada hal demikian berarti kita yang sepatutnya mengalah, mungkin selama ini kita mendapatkan pengertian dari sumber yang belum jelas, sedangkan yang kita terima ini benar-benar bersumber pada al-Quran sebagai firman Sang Penguasa Alam Semesta dan al-Hadis yang memuat segala tuntunan manusia beribadah.</p>
<p>Dalilnya serta terjemahannya juga jelas yang mana nilai kebenarannya tidak mungkin dibantah oleh pikiran manusia.</p>
<p>Kita layak bersyukur alhamndulillah setiap saat selesai mengaji, kita dapat mengingat hasil ilmu yang kita peroleh, kemudian menyimpan (meng-install ) di dalam memori ingatan kita, dengan demikian lama-kelamaan wawasan kita semakin luas seiring berjalannya waktu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-3-ishtibarun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-2 : Hirsun</title>
		<link>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-2-hirsun/</link>
		<comments>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-2-hirsun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 22:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[My Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Hirsun / Motivasi Mengaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Hirsun / Minat, Hasrat, Motivasi
Hasrat/minat seseorang dalam bidang tertentu akan memberikan pengaruh terhadap kesungguhan dan faktor keberhasilan dalam bidang tersebut. Faktor hasrat/minat inilah yang membuat kita tetap bersemangat dalam pekerjaan meskipun menghadapi kesulitan dan berbagai rintangan, namun dengan senang hati dan betah kita tetap melakukannya.
Nilai pengalaman yang lebih berharga dapat kita rasakan begitu kita mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Hirsun / Minat, Hasrat, Motivasi</em></strong></p>
<p>Hasrat/minat seseorang dalam bidang tertentu akan memberikan pengaruh terhadap kesungguhan dan faktor keberhasilan dalam bidang tersebut. Faktor hasrat/minat inilah yang membuat kita tetap bersemangat dalam pekerjaan meskipun menghadapi kesulitan dan berbagai rintangan, namun dengan senang hati dan betah kita tetap melakukannya.</p>
<p>Nilai pengalaman yang lebih berharga dapat kita rasakan begitu kita mampu mengatasi kesulitan tersebut.</p>
<p>Demikian juga dengan kegiatan mempelajari ilmu agama, seberapa jauh minat kita akan sangat berpengaruh terhadap perolehan ilmu dan kepahaman. Banyak terjadi, pada awalnya belum / tidak berminat tetapi karena mencoba dan mulai merasakan kepuasan atas perolehan pengetahuan dan wawasan yang makin meningkat, maka akhirnya menjadi kebiasaan dan bahkan ketagihan.</p>
<p>Rasa keingintahuan seseorang juga dapat menumbuhkan antusias dalam suatau kegiatan.</p>
<p>Sebagai contoh, seseorang yang berhasil menempati rangking teratas nilai akademik sebuah lembaga pendidikan / perguruan tinggi, adalah mereka yang tidak hanya bersungguh-sungguh / antusias dalam menerima pelajaran, namun mereka juga dengan senang hati sanggup mencari tahu lebih dalam lagi seputar mata kuliah dibanding teman-temannya, sehingga mereka mempunyai keunggulan.</p>
<p><strong>Pikiran manusia itu unik, karena dapat diprogram.</strong><strong> </strong></p>
<p><span id="more-884"></span>Cara untuk memprogram motivasi ke dalam pikiran kita dapat juga dengan memahami dan meyakini bahwa menuntut ilmu agama / mengaji adalah merupakan kebutuhan manusia yang paling hakiki, meskipun memang ada beberapa hadis menjelaskan bahwa menuntut ilmu agama adalah merupakan suatu <span style="text-decoration: underline;">kewajiban</span>.</p>
<p>Sebagaimana Rosululloh SAW bersabda dalam hadis Riwayat Ibnu Abdil Bar<em> </em>“uth’lubul ilma wa law bis-shin fa inna tholabal ilmi fariidhotun ‘ala kulli muslim ….al-hadis” Kamu sekalian mencarilah ilmu (agama) walaupun sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu adalah <strong>kewajiban</strong> bagi tiap muslim (orang Islam).</p>
<p>Dalam hadis tersebut mengaji adalah kewajiban yang kalau dikerjakan akan mendapat manfaat dan apabila tidak dikerjakan pastilah ada suatu sanksi/akibat.</p>
<p>Pemahaman bahwa mencari ilmu agama itu bagi orang Islam hukumnya <strong>wajib=harus</strong>, adalah karena orang itu mengaku <em>Islam</em> yang berarti siap <em>menyerah</em> untuk mencari keselamatan, orang yang senantiasa ingin mendapat ridho Alloh SWT, takut ancaman Nya, sewaktu-waktu memenuhi panggilan Nya menghendaki tempat tinggal yang mulya di sisiNYA.</p>
<p>Mari kita coba kita lihat penempatan kata “<strong>Wajib” </strong>pada kasus yang lain, sbb:</p>
<p align="center"><strong>“ Guru dan segenap karyawan / staf (pegawai negeri) di lingkungan Dinas Pendidikan pada hari Senin dan Selasa diwajibkan mengenakan seragam KORPRI”.</strong><strong></strong></p>
<p>Nah bagi yang mengaku jati dirinya sebagai PNS tentu saja menyadari karena sudah menjadi kewajibannya, toh mereka sanggup mengerjakan,  tidak ada masalah.</p>
<p>Bukankah kewajiban mengenakan seragam KORPRI terbatas pada lingkup tertentu. Sedangkan pegawai yang bukan PNS tetap tidak terkena hukum wajib, misalkan pegawai dari kontraktor yang dipekerjakan di kantor itu, pegawai dari instansi swasta yang mengadakan praktek lapangan, dll.</p>
<p>Mengapa pegawai negeri sanggup mengenakan seragam dan tidak protes meskipun juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban lain yang ukurannya lebih berat, misalnya harus apel upacara bendera pada waktu terik matahari dll.?</p>
<p>Ya, karena mereka sudah merasakan hasilnya menerima gaji pokok setiap bulan yang (selama ini) bisa terjamin dibayar, disamping juga berbagai fasilitas, tunjangan (asuransi) kesehatan, THR, gaji ke 13, SHU koperasi, terlebih kelak suatu saat berharap mendapat gaji pensiun, di saat fisik dan mental sudah lemah tidak mampu lagi bekerja. Harapan dapat menikmati hari tua, dimana jaminan kehidupan yang layak insyaAlloh tidak perlu dikawatirkan lagi.</p>
<p>Pada saat kondisi ekonomi negara yang semakin tidak menentu, menjadi PNS adalah merupakan primadona / impian bagi ribuan bahkan jutaan angkatan kerja Negara Indonesia yang senantiasa menunjukkan angka peningkatan setiap tahunnya.</p>
<p>Bahkan seorang kandidat sanggup melakukan <em>“berbagai macam cara”</em> demi dapat diterima / lulus mencadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).</p>
<p>Nah, lho !!</p>
<p>Ini hanya contoh , mengapa mereka termotivasi / sanggup melakukan?!,</p>
<p>yak tentu karena tahu hasilnya.</p>
<p>Contoh lain,</p>
<p>Kita lihat fenomena orang berobat, mengapa mereka jau-jauh sanggup datang ke rumah sakit, meski terkadang melalui antrean yang panjang. Konsultasi dengan dokter / para medis, dinasihati untuk melakukan terapi ini dan itu, bahkan di arahkan agar menghindari makanan yang menjadi kegemaranya, hingga sanggup membayar sejumlah uang sebagai biaya perawatan.</p>
<p>Mengapa mereka sanggup demikian, tentu karena punya <strong>motivasi</strong> ingin sembuh dari penyakitnya.</p>
<p>Demikian juga dengan mengaji ilmu agama, mengapa kita mempunyai motivasi untuk melakukannya?</p>
<p>Jadi <strong>Kewajiban = keharusan</strong> mencari ilmu tentang agama juga terbatas pada kalangan orang yang Islam atau orang yang mau belajar tentang Islam.</p>
<p>Ya kalau tidak mengaku /mengakui Islam, tentu tidak diharuskan (tidak diwajibkan) mengaji, meskipun demikian di beberapa ayat lain di al-Qur’an maupun butiran al-hadis banyak seruan kepada manusia agar ingat dan mau melaksanakan ibadah sebagaimana perintahNya agar kelak disayang Alloh SWT.</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Kita ini manusia dihidupkan di bumi hanya sekali yang umurnya tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan masa sebelum kelahiran kita, apalagi ditambah lamanya masa setelah dikubur nanti sampai akhirat, <strong>“kholii dina fii haa abada</strong>”. Kekal di dalam akhirat (surga / neraka) selama-lamanya…&#8230; Subhaanalloh!</p>
<p>Coba silahkan mengamati lagi “Skema Episode Kehidupan Manusia”.</p>
<p>Dengan memahami dan mensikapi bahwa mengaji itu merupakan <strong>kebutuhan kita sendiri </strong>sebagaimana orang makan dan minum, maka insyaAlloh kegiatan mempelajari agama ini dapat kita jadikan sebagai tobi&#8217;at / kita budayakan dengan senang hati agar bisa berjalan lancar, tidak banyak masalah.</p>
<p>Perhatian!!</p>
<p>Memahami bahwa mengaji agama itu sebagai kewajiban, terkadang kesannya menjadi “<strong>beban</strong>”, so kalau kita belum siap mental yang terjadi adalah menunda-nunda, betul kan!</p>
<p>akan berbeda bila kita mensikapi bahwa mengaji sebagai kebutuhan kita sendiri.</p>
<p>Padahal mempelajari ilmu agama itu sebenarnya mengasyikan , benar lho!</p>
<p>Ya, karena dengan mengerti tentang makna al-Quran dan al-Hadis yang kita pelajari serta menghayatinya ternyata menghasilkan kepuasan batin tersendiri.</p>
<p>Sebagai contoh diskusi antara para sohabat dengan Rosululloh SAW yang kita hayati, seolah-olah membawa kita memasuki situasi masa kehidupan Rosululloh SAW bersama para sobahat.</p>
<p>Kisah dalam al-Quran maupun al-Hadis yang agak panjang terkadang mirip sebuah kisah dramatic seni theater, seakan kita pun terhibur dibuatnya.</p>
<p>Dengan cara berpikir demikian jadinya tidak terasa berat, yang tadinya mengaji serasa <strong>beban,</strong> nah sekarang menjadi kebutuhan, apalagi kalau sudah mampu menjadikan mengaji sebagai hobby, insyaAlloh kita akan selalu merasa haus, dengan semakin banyaknya ilmu yang kita serap juga akan membuat kita lebih cepat faham agama.</p>
<p><em>Related Post</em></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="25" valign="top">#</td>
<td width="475" valign="top">
<h3 id="post-500"><a title="Permanent Link to Usaha Mengumpulkan Poin Pahala Sebanyak-banyaknya" rel="bookmark" href="http://binanurani.com/mendapatkan-poin-pahala-yang-sangat-banyak/" target="_blank">Usaha Mengumpulkan Poin Pahala Sebanyak-banyaknya</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="25" valign="top">#</td>
<td width="475" valign="top">
<h3 id="post-585"><a title="Permanent Link to Semangat Mencari Ilmu" rel="bookmark" href="http://binanurani.com/semangat-mencari-ilmu/" target="_blank">Semangat Mencari Ilmu Agama<br />
</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="25" valign="top">#</td>
<td width="475" valign="top">
<h3 id="post-665"><a title="Permanent Link to HR.Ibnu Madjah Juz 2 No.1395:”Menemukan Barang Yang Hilang”" rel="bookmark" href="http://binanurani.com/hribnu-madjah-juz-2-no1395menemukan-barang-yang-hilang/" target="_blank">HR.Ibnu Madjah Juz 2 No.1395:”Menemukan Barang Yang Hilang”</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="25" valign="top">#</td>
<td width="475" valign="top">
<h3 id="post-411"><a title="Permanent Link to Mengisi Hati Yang Kosong" rel="bookmark" href="http://binanurani.com/mengisi-hati-yang-kosong/" target="_blank">Mengisi Hati Yang Kosong</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="25" valign="top"></td>
<td width="475" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/enam-syarat-mencari-ilmu-agama-islam-bag-2-hirsun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-1 : Daka&#8217;un</title>
		<link>http://binanurani.com/keterangan-ayat-al-quran-sebagai-penerang-jalan-kehidupan/</link>
		<comments>http://binanurani.com/keterangan-ayat-al-quran-sebagai-penerang-jalan-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Daka'un : Kecerdasan dalam belajar agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun bukan merupakan persyaratan mutlak, namun enam hal berikut dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu agama Islam. Para ulama telah menorehkan ke-enam syarat tersebut dalam sebuah syair yang sudah termashur di kalangan masyarakat. Peninggalan para ulama masa lalu tersebut sering diperdengarkan dalam bentuk syairan (tembang) yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut :
Ala lan tanalul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun bukan merupakan persyaratan mutlak, namun enam hal berikut dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu agama Islam. Para ulama telah menorehkan ke-enam syarat tersebut dalam sebuah syair yang sudah termashur di kalangan masyarakat. Peninggalan para ulama masa lalu tersebut sering diperdengarkan dalam bentuk syairan <em>(tembang)</em> yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #800000;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: maroon;">Ala lan tanalul &#8216;ilma il-la bi sitatin</span></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #800000;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: maroon;">Sa un bika &#8216;an majmu&#8217;iha bi bayani</span></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #800000;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: maroon;">Dakaun wa khirsun was tibarun</span></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #800000;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: maroon;">wa bulghotun wa irsyadu ustadin</span></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #800000;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: maroon;">wa thulu zamani &#8220;</span></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Arti dari syair/ tembang di atas adalah sebagai berikut :</span><span id="more-691"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">&#8221; Engkau tidak akan dapat memperoleh ilmu , kecuali dengan enam perkara </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Akan aku ceritakan kepadamu beserta penjelasannya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Berakal , Keinginan (motivasi ) , Kesobaran, Bekal, Petunjuk ustadz.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">dan Waktu yang lama&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Penjelasan lebih lanjut tentang enam perkara di atas secara berurutan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Pertama</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> &#8211; Daka’un<span> </span>( berakal )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Kedua</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> &#8211; Khirsun<span> </span>( berkeinginan )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Ketiga</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> – Ishtibarun ( kesobaran )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Keempat</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> – Bulghotun ( bekal )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Kelima</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> &#8211; Irsyadu Ustadin ( petunuk guru )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Keenam</span></span></strong><strong><span style="font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;"> &#8211; Thulu Zamani ( masa yang panjang )</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Baik selanjutnya akan diruraikan secara lebih mendetail.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">Pertama &#8211; <span> </span>Daka’un /Berakal.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Secara definif sebetulnya sederhana saja, yang dimaksud berakal adalah <em>Dong </em><span> </span>atau mudeng ( Bahasa Jawa ) atau<span> </span>punya daya dong, sehingga seseorang kalau sudah punya daya dong saat menerima ilmu bisa nyambung dengan masalah yang ia dapatkan<span> </span>menngerti maksud atau memahaminya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Kemampuan menangkap suatu pengertian, dapatlah diberikan ilustrasi sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Apabila nara sumber*) bermaksud menyampaikan pesan berbunyi “ABC” maka audience juga menerima dan meyakini sehinggalah masuk ke dalam kepahaman / keyakinannya berbunyi “ABC” sehingga praktek / amalannya juga “ABC”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">*)Yang dimaksud nara sumber pada masa sohabat adalah Rosululloh SAW sendiri sebagai pembawa wahyu /risalah kepada umat manusia, sedangkan masa sekarang (sepeninggal Rosululloh SAW) adalah juru penerang agama, sebagai penerus penyebarluas risalah agama dari Rosululloh SAW. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Kemampuan menerima seperti ini kurang lebih yang dimaksud dengan <em>“<strong>daka’un</strong>”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Daka’un</span></em></strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;"> </span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;"><span> </span>sebagai salah satu syarat dalam menuntut ilmu agama, tidak dimaksudkan sebagai kecerdasan tingkat tinggi / genius sebagaimana orang yang mempunyai IQ tinggi semata, tetapi lebih kepada kesiapan pikir seseorang untuk sanggup menerima ilmu agama, karena daya terima atau kemampuan menerima ( daya dong ) setiap orang berbeda beda,sedangkan Alloh mencurahkan ilmunya kepada semua manusia tanpa pandang bulu sebagai petunjuk ( hidayah ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Semua manusia yang diciptakan Alloh SWT lahir di muka bumi pada dasarnya mampu mempelajari, menemukan fitrah / agama Islam yang benar serta mampu melaksanakannya sehingga sewaktu-waktu dipanggil (meninggalkan dunia) dapat berhasil meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup di akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;"> Mengapa demikian? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Ya, Alloh SWT sendiri yang menciptakan manusia pastilah sangat memahami detail konstruksinya, serta tahu persis kemampuan manusia, sehingga dalam menciptakan agama sebagai jalan keselamatan manusia, Alloh SWT sudah merancang syariat tersebut dibuat<span> </span>sesuai dengan batas kemampuan manusia pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Benar !,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Agama Islam itu mudah, selagi mengikuti petunjuk yang sudah ada. Alloh SWT sudah mengutus Rosululloh SWT untuk mengajari, membimbing serta memberikan contoh kepada manusia seluruh isi jagad raya dalam praktek beribadah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Kesulitan biasanya timbul dalam pikiran manusia itu sendiri yang tidak mengindahkan rambu-rambu petunjuk yang sudah terpampang jelas dalam al-Quran dan sunah/al-hadis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Hanya ada 4 (empat) golongan manusia yang sampai akhir hayatnya hidup di muka bumi tidak mampu mengerjakan perintahNya, mereka berhujah / interupsi di hadapan mahkamah Ilahi pada hari qiyamat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Karena ke empat golongan tersebut mengajukan alasan yang “</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: blue;">dapat diterima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">” maka dengan sifat maha belas kasihanNya (Ar-Rohiim) Alloh SWT berkenan memperhatikan,mempertimbangkan, yang kemudian memberi kesempatan yang terakhir, yaitu mereka disuruh melaksanakan perintah Alloh SWT , pada hari qiyamat itu juga. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Allohu Akbar!.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Selain dari empat golongan tersebut, kalau sampai akhir hayat tidak mau melaksanakan perintah sesuai dengan “<strong>aturan main” </strong>yang sudah Alloh SWT tetapkan, kelak di akhirat Alloh SWT sudah tidak peduli untuk menerima alasan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Comic Sans MS&quot;; color: purple;">“ ….sami’tu Rosulalloh SAW yaqulu : man khola’a yadan min to’atin laqiyaAlloh yaumal qiyamati laa khuj-jata lahu…al-hadits</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">HR Muslim Kitabul Imaroh .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Artinya “ aku (Abdulloh bin Umar) mendengar Rosululloh SAW bersabda “ barang siapa yang mencabut tangan dari ketaatan (tidak taat Alloh dan Rosul) maka nanti berjumpa kepada Alloh SWT<span> </span>tidak ada alasan baginya…<em>al hadits</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Untuk itu, Saudaraku yang saya hormati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Marilah bersama, kita gunakan kemampuan pikiran kita selagi masih diberi kesempatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: #993300;">Ingat !!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: #993300;">penyesalan itu selalu ada di belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">“Lho tapi ada penyesalan di depan….hah .. apa ya?</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Orang yang menarik kambing dari depannya kambing, akhirnya diseruduk pantatnya dari belakang….ha..ha </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings; color: black;"><span>J</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;"><span> </span>“  ah ini intermeso lawakan gaya Rieke Dyah Pitaloka di TV…. bisa saja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;">Oh, ya! empat golongan yang sampai meninggal dunia tidak mampu mengerjakan perintah Alloh SWT antara lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Comic Sans MS&quot;; color: blue;">Orang yang tuli, Orang gila, Orang pikun, Orang yang mati pada zaman fatroh ( masa tidak ada / belum ada utusan</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Comic Sans MS&quot;; color: black;">)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: black;"> Kitab Sifatil Jannati wa Nar hal.53-54 Fii Mukhtarul Adilah. <a href="http://www.bina-insani.com/mukhtarul.htm">(Himpunan Dalil-dalil Pilihan)</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Saudara-saudaraku yang saya cintai,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Perhatikan mereka! yang tiga golongan adalah kita maklum, mereka;<span> </span>orang tuli, orang gila dan orang pikun diajak bicara saja susah , bagaimana mau menerima pelajaran agama !<em> (na&#8217;dzubillahi min dzalik).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Kalau sekarang kita diberi umur panjang, sehat, (maaf)mempunyai pikiran normal/akal sehat, kalau sampai tidak memperhatikan perintah Alloh SWT dan suri tauladan Utusan Alloh (Rosululloh SAW), pantaskah kita digolongkan bersama mereka ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Para pembaca yang terhormat pasti tahu jawaban sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Sedangkan golongan terakhir dari empat golongan di atas adalah manusia yang hidup pada <span style="text-decoration: underline;">zaman fatroh</span> yaitu zaman kekosongan utusan, setelah kerosulan Nabi Isa &#8216;Alaihi Salam hampir sekian lama tidak rosul, lebih kurang 600 tahun berikutnya baru Alloh SWT mengutus utusan dari kalangan kaum Qurais, Makah beliaulah Muhammad SAW.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Mereka yang hidup pada masa ini meskipun cerdas, genius tapi tetap tidak tahu agama yang benar, mereka dimaklumi oleh Alloh SWT karena memang tidak mendengar ada rosul yang mengajarkan risalah agama..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Berbeda dengan kita yang dilahirkan pada zaman akhir, masa sesudah Muhammad SAW dijadikan utusan oleh Alloh SWT dan mulai menerima wahyu yang pertama 10 Agustus 610.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Sangat disayangkan kalau pikiran kita hanya dipenuhi urusan dunia, mengejar karier, mencari harta belaka, pikiran yang begini yang akan mencelakaan diri sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"><span style="background: #ccffcc none repeat scroll 0% 0%; font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: red;">Warning !</span></span></em></strong><strong><span style="background: #ccffcc none repeat scroll 0% 0%; font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;; color: red;"> <span> </span>: </span></strong><span style="background: #ccffcc none repeat scroll 0% 0%; font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Kita sekolah dari SD, SLTP, SLTA, Akademi/Perguruan Tinggi berapa jam, berapa tahun, pikiran kita diisi program untuk urusan meraih kehidupan layak di dunia yang sifatnya fana/sementara,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="background: #ccffcc none repeat scroll 0% 0%; font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">kemudian bandingkan berapa lama dalam satu minggu kita mendalami ilmu agama, membuka, memahami, merenungkan, mengamalkan isi kandungan Al-Qur&#8217;an dan al-Hadis untuk meraih kehidupan yang layak di akhirat yang sifatnya kekal abadi selama-lamanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;">Hal ini patutlah menjadi bahan renungan yang serius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Microsoft Sans Serif&quot;;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/keterangan-ayat-al-quran-sebagai-penerang-jalan-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
