<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>binanurani.com &#187; Hasil Pengajian Langsung</title>
	<atom:link href="http://binanurani.com/category/hasil-pengajian-langsung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://binanurani.com</link>
	<description>Majelis Ta'lim Bina Nurani Istiqomah &#124; Generasi Cinta Quran &#124; Menuju Islam Kafah &#124; Bicara Lepas &#124; Berbagi Manfaat Kepada Sesama</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 04:41:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Empat Permasalahan Kendala Belajar Agama Islam ( Faktor Ekstern )</title>
		<link>http://binanurani.com/empat-faktor-kendala-belajar-agama-islam/</link>
		<comments>http://binanurani.com/empat-faktor-kendala-belajar-agama-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 21:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hasil Pengajian Langsung]]></category>
		<category><![CDATA[Mengapa Mempelajari Agama itu Penting?]]></category>
		<category><![CDATA[My Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Teks Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[Faktor Kendala Belajar Agama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[Belajar ilmu agama Islam sebagai penyeimbang kehidupan manusia, jalan keselamatan dan kebahagiaan hakiki dambaan setiap insan, ternyata dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang pada kondisi tertentu berpotensi menjadi faktor kendala, antara lain :
1- Masalah Tempat
Akan kemana dan bagaimana caranya untuk menemukan tempat , lembaga atau nara sumber yang benar-benar siap menyampaikan ilmu agama Islam kepada masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belajar ilmu agama Islam sebagai penyeimbang kehidupan manusia, jalan keselamatan dan kebahagiaan hakiki dambaan setiap insan, ternyata dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang pada kondisi tertentu berpotensi menjadi faktor kendala, antara lain :</p>
<h2><span style="color: #800000;"><strong><em>1- Masalah Tempat</em></strong></span></h2>
<p>Akan kemana dan bagaimana caranya untuk menemukan tempat , lembaga atau nara sumber yang benar-benar siap menyampaikan ilmu agama Islam kepada masyarakat dengan cara menunjukkan jalan kebenaran berdasarkan data dan fakta otentik bersumber kepada dalil di dalam Kitab Suci Al-Quran dan Sunah/tuntunan Rosululloh SAW yang terhipun dalam hadits-hadits shohih.</p>
<h2><span style="color: #800000;"><strong><em>2- Masalah Materi dan Pengajar / Ustadznya</em></strong></span></h2>
<p>Masalah materi pokok sumber ilmu dan pembelajaran agama sebenarnya sudah jelas, karena pedoman agama Islam adalah al-Quran dan al-Hadist , sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW yang terekam dalam <em>Hadis Riwayat Malik fii Muato&#8217; juz 3 hal.95</em></p>
<p><span style="color: #000080;">&#8220;Taroktu fii kum amroini lan tadhil-lu ma tamasktum bi hima kitaabillahi wa sun-nati nabiyihi,&#8221; = <span style="color: #008000;">Telah aku tinggalkan dua perkara di kalangan kamu semua, (yang mana) kamu semua tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, (yaitu) Kitabillah (Al-Quran) dan Sunah / tuntunan Nabinya Alloh (al-Hadis).</span><span id="more-992"></span></span></p>
<p>Referensinya begitu jelas, namun kenyataanya praktek di lapangan permasalahan materi ini belum memasyarakat sebagaimana yang diharapkan.</p>
<p>Demikian juga siapa pengajar (ustadz) yang memiliki daya juang dengan ridho sanggup menegakkan syiar agama yang secara Lillaahi Ta&#8217;ala (karena Alloh) memberikan ilmunya, membimbing serta mengantarkan pemahaman umat dengan sobar, tekun. Melayani dan mendatangi masyarakat yang meminta kursus privat meskipun hanya mengajar satu atau dua orang? Ikhlas !</p>
<h2><span style="color: #800000;"><strong><em>3- Masalah Metode Pembelajaran / Pengajian</em></strong><em>.</em></span></h2>
<p>Metode pembelajaran ilmu agama di kalangan umat selama ini pada umumnya belum efektif dan mengenai sasaran, belajar ilmu agama hanya dengan mendengarkan ceramah ulama di podium tabligh akbar, melalui media elektronik (radio, televisi, internet) , ataupun tulisan di media cetak yang <strong>berpola komunikasi searah</strong>, rasanya belum memperoleh hasil yang optimal. Boleh jadi  materi yang dibawakan justru tidak menyentuh permasalahan pembinaan umat dengan tuntunan perilaku kehidupan sehari-hari, atau hal-hal yang sering disampaikan hanya sisi luarnya saja, tidak mendalam.</p>
<p>Sementara mempelajari agama dengan membeli dan membaca sendiri buku-buku agama karangan para penulis, boleh jadi membuka peluang timbulnya berbagai keraguan. Semakin banyak membaca kitab-kitab terjemahan yang dibeli di toko kitab/buku belum tentu semakin mantap dalam keyakinan terhadap kepastian hukum suatu amalan atau topik tertentu.</p>
<p>Hal ini dimaklumi karena untuk satu topik saja, cukup banyak para penulis dari berbagai latar belakang yang berbeda membuat tafsir (penjabaran ) yang berbeda-beda pula. Alhasil sulit untuk disimpulkan , yang berikutnya muncul adalah keraguan bagi para pencari &#8220;hidayah&#8221; / petunjuk ilmu agama, bahkan dapat berpotensi semakin <strong>&#8220;membingungkan dan membosankan &#8220;.</strong></p>
<p>Satu hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika alam reformasi dengan kebebasan berpendapat juga memasuki ranah dakwah Islam, maka akibat yang ditimbulkan adalah semakin banyaknya ikhtilaf ( perbedaan pendapat) di kalangan para pemuka agama. Sebagaimana fenomena perpecahan Islam yang sudah sama-sama kita lihat pada keseharian.</p>
<p>Timbul tanda tanya adakah lembaga atau penerbit yang membuat <strong>&#8220;quality control&#8221;</strong> terhadap mutu sebuah buku agama agar tetap berada dalam koridor pengertian yang murni berdasar pedoman agama Islam Kitab Suci Al-Quran dan Sunah Rosulillahi SAW?</p>
<p>Jika terjadi keraguan dari buku-buku terjemahan yang dijua bebas, mudahkah kita menghubungi nara sumber atau penerbit untuk melakukan konfirmasi, cross chek , terlebih untuk berbincang-bincang sepuasnya ?</p>
<p align="center"><strong>INI MASALAH YANG URGENT (MENDESAK) TERHADAP PENJAGAAN KEUTUHAN DAN KEMURNIAN ILMU SERTA  AMALAN AGAMA ISLAM YANG KITA CINTAI,</strong></p>
<p align="center"><strong>KITA MUSTI CARI SOLUSINYA!</strong></p>
<h2><span style="color: #800000;"><em>4- Masalah Lamanya Waktu Belajar dan Besarnya Biaya.</em></span></h2>
<p>Banyak di antara kita memiliki kegiatan sebagai rutinitas hidup, menyita banyak waktu dan perhatian, seperti bekerja, mengurus anak, kuliah, serta berbagai kesibukan dalam rumah tangga lainnya , sehingga perkara mengaji mendalami agama sebagai bekal masa depan akhirat  kurang mendapat perhatian serius .</p>
<p>Keinginan untuk mendalami ilmu agama Islam sebagaimana teman-teman yang belajar intesif di pondok pesantren, konsekuensi logisnya adalah meninggalkan aktifitas sehari-hari. Kalaupun datang ke pondok pesantren yang mungkin dapat dilakukan paling-paling hanya dua samapai tiga hari itupun sebatas <span style="color: #000080;">&#8220;bertamu&#8221;</span> , sedangkan untuk &#8221; nyantri &#8221; mau tidak mau haris meluangkan waktu yang lebih lama , juga niyat dan konsentrasi pikiran kita, belum lagi biaya yang mesti dialokasikan selama mondok di pesantren .</p>
<p>Lalu bagaimana usaha kita ?</p>
<p>Kami mengusulkan suatu cara , semoga dapat membantu masalah Saudara dalam usaha menemukan tempat dan metode belajar yang representatif.  Hasil saya mondok di pesantren plus pengalaman menjadi ustadz selama 17 tahun hingga sekarang kita onlin-kan  <a href="http://www.madrasahonline.com/index.html" target="_blank"> di sini.</a><span style="color: #800000;"> </span></p>
<p><span style="color: #800000;">Saudara dapat bergabung , belajar agama Islam secara intensif dengan metode yang sudah kami siapkan, pengeluaran biaya yang jauh lebih hemat, dengan tidak meninggalkan aktifitas sehari-hari dan meninggalkan rumah.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/empat-faktor-kendala-belajar-agama-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Alasan Utama Orang Datang ke Majelis Ta&#8217;lim</title>
		<link>http://binanurani.com/4-alasan-utama-orang-datang-ke-majelis-talim/</link>
		<comments>http://binanurani.com/4-alasan-utama-orang-datang-ke-majelis-talim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 22:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam Melalui Tamsil (gambaran)]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Pengajian Langsung]]></category>
		<category><![CDATA[Mengapa Mempelajari Agama itu Penting?]]></category>
		<category><![CDATA[Mengapa Orang Datang ke Majelis Ta'lim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[Kata serapan atau kata yang sudah lazim didengar dan diucapkan oleh masyarakat serta dimengerti maksudnya, “ majelis ta’lim “ berasal dari Bahasa Arab. Majelis dari asal kata dasar (fi’il madzi) jalasa  = duduk =&#62; majelis = tempat duduk, sedangkan ta’lim asalnya ‘alama = ta’al-lama = belajar.  Sehingga maksud secara lengkapnya adalah tempat duduk bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata serapan atau kata yang sudah lazim didengar dan diucapkan oleh masyarakat serta dimengerti maksudnya, <em>“ majelis ta’lim</em> “ berasal dari Bahasa Arab. Majelis dari asal kata dasar (fi’il madzi) <span style="color: #000080;"><em>jalasa </em></span> = duduk =&gt; <span style="color: #000080;"><em>majelis</em></span> = tempat duduk, sedangkan ta’lim asalnya <em>‘</em><span style="color: #000080;"><em>alama</em><em> = ta’al-lama</em></span> = belajar.  Sehingga maksud secara lengkapnya adalah tempat duduk bersama dalam rangka proses belajar dan mengajar ilmu agama atau istilah singkatnya <em>“tempat pengajian”</em>.</p>
<p>Karena banyaknya manfaat majelis ta’lim di balik berbagai kegiatan yang ada di dalamnya , maka hingga kini majelis ta’lim masih menjadi idola bagi masyarakat yang haus akan ilmu agama sebagai penerang jalan kehidupan.</p>
<p>Dari aspek tujuan pembelajaran, maka majelis ta’lim diibaratkan <span style="color: #000080;">“<em> </em><em>sekolahnya orang calon sukses akhirat</em><em>”</em></span> sedangkan pembelajaran umum di SD, SLTP, SLTA adalah <span style="color: #000080;"><em>“ sekolah orang calon sukses dunia</em>”</span> .</p>
<p>Meskipun bentuk kegiatannya bersifat <em>jama’</em> atau dikerjakan secara bersama-sama, namun dalam kenyataan pelaksanaanya boleh jadi dilaksanakan di masjid-masjid, mushola, rumah perorangan, bahkan tidak menutup kemungkinan dilaksanakan di alam terbuka.</p>
<p>Alhamndulillah kegiatan mengaji di tempat pengajian kita yang akhirnya tahun lalu dinamai <strong><span style="text-decoration: underline;">Majelis Ta’lim Binanurani Istiqomah</span></strong> sebagai pertanda di-online-kannya kegiatan kita, sudah berusia 14 tahun hingga saat posting tulisan ini.<span id="more-922"></span></p>
<p>Dari tahun ke tahun jumlah peserta / jamaah majelis ta’lim kian bertambah jumlahnya.</p>
<p>Apa saja factor-faktor pendukung yang membuat mereka para jamaah selalu ketagihan mengikuti pengajian, sehingga tetap lestari hingga sekarang ?</p>
<p>Inilah , 4 Alasan Utama Orang Datang ke Majelis Ta’lim</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="24" valign="top">&gt;</td>
<td width="24" valign="top">1</td>
<td width="487" valign="top">Majelis ta’lim sebagai pusat pembelajaran ilmu agama Islam   ibarat sumber mata air yang tiada habis-habisnya ditimba sebagai penyejuk   jiwa, penyeimbang kehidupan. Para peserta pendapatkan siraman rohani.   Pemahaman yang benar dari dasar ilmu agama Islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadits   para jamaah pengajian memiliki pandangan hidup yang jauh ke depan sehingga   memiliki sikap positif dalam mengarungi kehidupan dunia yang sebentar in.</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="24" valign="top">&gt;</td>
<td width="24" valign="top">2</td>
<td width="487" valign="top">Setiap kali pulang dari majelis ta’lim, para jamaah pengajian   mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan agama yang berkesan di dalam hati   sanubari sebagai bekal dalam memenuhi tugas melaksanakan ibadah, langkah   hidupnya terasa ringan diterangi cahaya iman yang terang benderang.</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="24" valign="top">&gt;</td>
<td width="24" valign="top">3</td>
<td width="487" valign="top">Dengan metode pembelajaran yang “face to face” memudahkan para   peserta pengajian dalam memahami suatu keterangan dari kajian Al-Quran dan   Al-Hadits , dan apabila ditemukan suatu kejanggalan , masing-masing peserta   mendapat kebebasan untuk mengajukan pertanyaan dan langsung ditanggapi. Inilah   yang membuat mereka merasa puas.</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="24" valign="top">&gt;</td>
<td width="24" valign="top">4</td>
<td width="487" valign="top">Karena seringnya bertemu dalam suatu kegiatan, maka hubungan   antar sesama jamaah menjadi semakin akrab, dimana-mana banyak teman dan   seakan menjadi saudara. Amalan ibadah yang tadinya terasa berat karena banyak   temannya maka menjadi terasa ringan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Itulah diantara alasan mereka awet dan selalu hadir mengikuti pengajian di Majelis Ta’lim Bina Nurani Istiqomah yang dilaksanakan dua kali dalam satu pekan hari Senin dan Jumat, kecuali bagi jamaah yang sedang ada udzur mereka titip ijin kepada peserta lain yang hadir, atau menyampaikan langsung ke ta’mir.</p>
<p>Bagi yang berkenan menghadiri pengajian langsung info lebih lanjut <a href="http://binanurani.com/tentang-kita/" target="_blank"><em>di sini.</em></a></p>
<p>Bagaimana tanggapan Saudara, silahkan ajukan usulan, comment dll.</p>
<p><em>Related Posts</em></p>
<table style="height: 275px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="598">
<tbody>
<tr>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="16" valign="top">#</td>
<td width="483" valign="top">
<h3><a href="http://binanurani.com/lihatlah-apa-yang-dikatakan-jangan-lihat-yang-berkata/" target="_blank">Lihatlah Apa Yang Dikatakan, Jangan Lihat Siapa Yang Berkata</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="16" valign="top">#</td>
<td width="483" valign="top">
<h3><a href="http://binanurani.com/karena-hidup-ini-seperti-permainan/" target="_blank">Karena Hidup Ini Seperti Permainan</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="16" valign="top">#</td>
<td width="483" valign="top">
<h3><a href="http://binanurani.com/supaya-tidak-menyesal/" target="_blank">Supaya Tidak Menyesal di Akhirat</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="16" valign="top">#</td>
<td width="483" valign="top">
<h3><a href="http://binanurani.com/hkn-ke-3-duduk-beribadah/" target="_blank">HKN Ke-3 ” Duduk Beribadah”</a></h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="91" valign="top"></td>
<td width="16" valign="top">#</td>
<td width="483" valign="top">
<h3 id="post-188"><a href="http://binanurani.com/hkn-ke-2/" target="_blank">HKN Ke-2 “Keseimbangan Hidup Duniawi dan Ukhrawi”</a></h3>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/4-alasan-utama-orang-datang-ke-majelis-talim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HR.Ibnu Abi Hatim : &#8220;Kefadholan Lailatur Qodar&#8221;</title>
		<link>http://binanurani.com/kefadholan-lailatur-qodar/</link>
		<comments>http://binanurani.com/kefadholan-lailatur-qodar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 20:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hasil Pengajian Langsung]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Pandangan Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Mengumpulkan Poin Pahala Yang Banyak]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kefadholan Lailatul Qodr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=888</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ali bin Urwah berkata , suatu hari Rosulullohi shollallohu ‘alaihi wa salam menyebutkan empat orang dari golongan dari Bani Isroil yang beribadah kepada Alloh selama delapan puluh tahun tidak melanggar kepada Alloh sekedip matapun. Rosulullohi SAW menuturnkan nama-namanya : Nabi Ayub, Nabi Zakarya, Hizkil bin ‘Ajuz, dan Yusa’bin Nun.
Ali bin Urwah melanjutkan kisahnya, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Ali bin Urwah berkata , suatu hari Rosulullohi shollallohu ‘alaihi wa salam menyebutkan empat orang dari golongan dari Bani Isroil yang beribadah kepada Alloh selama delapan puluh tahun tidak melanggar kepada Alloh sekedip matapun. Rosulullohi SAW menuturnkan nama-namanya : Nabi Ayub, Nabi Zakarya, Hizkil bin ‘Ajuz, dan Yusa’bin Nun.</p>
<p>Ali bin Urwah melanjutkan kisahnya, maka para sohabat Rosulillahi SAW heran dengan keadaan mereka seperti itu.</p>
<p>Ketika itu datanglah Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW seraya berkata :” Hai Muhammad !  umatmu heran dari ibadah para umat dari Bani Isroil yang beribadah kepada Alloh selama delapan puluh tahun tidak melanggar kepada Alloh sekedip matapun. Sekarang Alloh SWT berkenan menurunkan yang lebih baik dari demikian itu. Maka Malaikat Jibril membacakan kepada Rosulillaho SAW ayat : <strong>In-na anzalnahu fii lailatul qodr, wa maa ad’roka ma lailatul qodr ? , Lailatul qod’ri khoirun minalfi syahrin</strong>” in lebih afdhol daripada apa yang kau heankan beserta umatmu”.</p>
<p>Berkata Ali bin Urwah, maka Rosulillahi SAW dan manusiabeserta nabi dibuat bahagia dengan berita seperti itu.</p>
<p>Hadits Riwayat Ibnu Abi Hatim.</p>
<p>Nuansa Islam dengan ditengarai kesemangatan saudara-saudara kita umat muslim dalam mem-barokah-kan bulan Romadhon ini terasa lebih “menggigit” dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Alhamndulillah masjid kita yang sekaligus sebagai tempat Majelis Ta’lim Bina Nurani Istiqomah, setiap malam senantiasa dipakai untuk solat berjamaah Isak dilanjutkan solat sunah tarawih berjamaah dan penderesan bacaan Al-Quran.</p>
<p>Dan pada tadi malam, di Masjid Al-Mashurin Tejowarno Muntilan diadakan tarling (tarawih keliling) yang dihadiri oleh Bp.Afifudin, BA Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Magelang, MUSPIKA Kecamatan Muntilan , Staf dan aparat pemerintah setempat juga dihadiri tokoh masyarakat dan warga sekitar.</p>
<p>Pengajian kita juga dapat undangan, namun yang datang pada acara itu hanya saya beserta Bp.H. Ngadiman, sedangkan saudara kita yang lain tetap mengikuti kegiatan di tempat sendiri yaitu penderesan Al-Quran dan kajian Kitabus-Shoum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/kefadholan-lailatur-qodar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Mengaji, Dalil-dalil Bab Peningkatan Amalan Ibadah (part-1)</title>
		<link>http://binanurani.com/hasil-mengaji/</link>
		<comments>http://binanurani.com/hasil-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 18:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hari Wuryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[11 Januari 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi Kejadian di Akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-kisah Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabul Adab (Kitab tentang Budi Pekerti)]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian Langsung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binanurani.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Pengajian pada hari ini Senin ,11 Januari 2008 sebagaimana biasa dilaksanakan di mushola kampung saya sendiri. Menuju tempat pengajian cukup jalan kaki karena Jarak dari rumah lebih kurang hanya 150 meter. Jadwal waktu pengajian di mushola ini sudah rutin yaitu setiap Senin jam 13.30 &#8211; 15.00 WIB sedangkan untuk Jumat dimulai habis jumatan atau jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengajian pada hari ini Senin ,11 Januari 2008 sebagaimana biasa dilaksanakan di mushola kampung saya sendiri. Menuju tempat pengajian cukup jalan kaki karena Jarak dari rumah lebih kurang hanya 150 meter. Jadwal waktu pengajian di mushola ini sudah rutin yaitu setiap Senin jam 13.30 &#8211; 15.00 WIB sedangkan untuk Jumat dimulai habis jumatan atau jam 13.oo sampai 14.30 WIB. Sedangkan tempatnya kadang berpindah-pindah menurut kebutuhan terutama untuk hari Jumat.</p>
<p>Materi yang disampaikan berupa satu halaman ukuran folio bolak-balik dengan judul <span style="color: #800080;"><strong>&#8220;Dalil-dalil Bab Peningkatan Amalan Ibadah&#8221;.</strong></span></p>
<p>Nah, akan saya coba untuk menayangkan hasilnya di blog ini, supaya Saudara juga dapat mengikuti.</p>
<p>Silahkan menuju http://www.binanurani.blogspot.com, untuk melihat dalilnya.</p>
<p>Dalil yang pertama diambil dari Al-Quran Surah al-Haser ayat 18 , kalau dibaca lebih kurang berbunyi sebagai berikut : <span id="more-388"></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>&#8220;Yaa ay-yu hal-ladziina amanut-taqulloha wal tan dhur nafsun ma qod-damat li ghod&#8217; wat-taqulloha in-nalloha chobiirun bima ta&#8217;lamuun&#8221;</strong></span></p>
<p>Maknanya,</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Yaa ay-yu ha</span> = </strong>wahai<strong><br />
</strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Al-ladziina amanu </strong><span style="color: #000000;">= orang-orang yang beriman (percaya) </span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>it-taqulloha </strong><span style="color: #000000;">= Taqwalah (takutlah ) kamu semua kepada Alloh</span></span></p>
<p>Ok, dari tiga suku kata ini saya terangkan dulu ya,</p>
<p>Alloh SWT melalui surat yang dikirimkan untuk hambanya (manusia di muka bumi) melalui Rosulullohi SAW , menyeru kepada orang yang beriman, (orang beriman adalah orang yang percaya adanya Alloh, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhirat, dan Taqdir)</p>
<p>agar takut kepada Alloh. Mengapa Kita diseru oleh Alloh SWT supaya takut padanya?</p>
<p>Ya, karena kalo kita percaya, Dialah yang menciptakan dunia dan seisinya, termasuk kita di dalamnya, Alloh jua yang Maha Merencanakan bagaimana nanti yang akan dilaksanakan setelah kehancuran alam semesta ini (kiamat).</p>
<p>Nah, kalau Alloh SWT memperingatkan hambanya ini berarti karena sayang, belas kasih kepada hambanya. Seandainya kita mau memperhatikan, memahami makna firmannya yang tertulis di dalam kitab al-Quran kemudian membuat kita semakin mendekat untuk mentaatinya, maka nanti Alloh juga akan sayang dan memberikan balasan yang setimpal.</p>
<p>Kalau Alloh SWT sudah sayang kepada kita, wah&#8230;.ya jelas dong. kita bakal beruntung, dimanja dibikin senang bahagia dunia akhirat.</p>
<p>Tetapi sebaliknya, kalau tidak takut, tidak mempedulikan peringatannya, ya berarti termasuk hamba yang meremehkan dan keras kepala, nanti bakal dibenci Alloh dan Alloh sudah mengancam dengan menyediakan siksaan yang dahsyat dan abadi di akhirat nanti. ( dan akhirat tuh gak jauh-jauh loh, ketika seseorang meninggal dunia berarti sudah masuk halaman akhirat !!, dan bukankan mati itu datang sewaktu-waktu ?! )</p>
<p>Kemudian kalimat nerikutnya</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>wal tan dhur nafsun ma qod-damat li ghod&#8217;</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>wa </strong><span style="color: #000000;">= dan, </span><strong>Lam (mati) </strong><span style="color: #000000;">= supaya, </span><strong>in tan dhur </strong><span style="color: #000000;">= melihat , mengoreksi </span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="color: #000000;"> </span><strong>nafsun </strong>= <span style="color: #000000;">seseorang</span> , <strong>ma </strong><span style="color: #000000;">= apa-apa<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>qod-damat </strong><span style="color: #000000;">= yang telah mengerjakan , </span><strong>li </strong><span style="color: #000000;">= untuk / bagi</span><strong> , ghodin </strong><span style="color: #000000;">= besuk hari</span><strong> </strong><span style="color: #000000;">.menurut tafsir sofatul hal.548 bahwa li ghodin ai (yaitu) li yaumil qiyamah = untuk hari kiamat.</span></span></p>
<p>Pada bagian ini Alloh memperingatkan, agar setiap diri manusia mempersiapkan segala sesuatunya sebagai bekal sebelum melakukan perjalanan panjang pulang ke pangkuan ilahi (dipanggil Alloh SWT alias meninggal (kan) dunia.</p>
<p>Sebagaimana kita tahu bahwa waktu ini berlalu begitu cepat, makin ke sini rasanya makin pendek saja.</p>
<p>Satu minggu rasanya seperti 4 atau 5 hari, baru kemarin jumatan rasanya sekarang sudah jumatan lagi, yang saya &#8220;rasakan&#8221; begitu. Nah, sedangkan waktu tidak pernah berhenti apalagi mundur kembali. Maka , Saudara sebelum kita dipanggil pulang ke rahmatulloh hayo segera berbenah diri, berkemas-kemas persiapkan segala sesuatunya jangan sampai ada yang ketinggalan. Dan lebih penting lagi Malaikat Izroil (sang pencabut nyawa) belum pernah terjadi dalam sejarah, memberitahu beberapa hari sebelumnya kepada kita bahwa dia diutus Alloh akan mencabut nyawa kita. Nah loh !!</p>
<p>Kalimat berikut ,</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>wat-taqulloha in-nalloha chobiirun bima ta&#8217;lamuun&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>wa </strong><span style="color: #000000;">= dan </span><strong>, it-taquu </strong><span style="color: #000000;">= takutlah kamu semua</span><strong> , Alloha = </strong><span style="color: #000000;">(kepada) Alloh</span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>in-na </strong>= sesungguhnya<strong>,  Alloha </strong><span style="color: #000000;">= Alloh </span><strong>, chobiirun </strong><span style="color: #000000;">= maha waspada</span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>bi ma </strong><span style="color: #000000;">= dengan apa-apa</span><strong>, ta&#8217;lamuun </strong><span style="color: #000000;">= yang (kamu semua) mengerjakan&#8221;</span></span></p>
<p>Di sini Alloh menegaskan agar kita takut kepadanya. Kata takut ini berbeda apabila ditempatkan pada kontek kalimat yang berbeda. Kalau taku kepada harimau tentunya lari menjauh agar tidak diterkam, tetapi takut kepada Alloh adalah takut dengan ancaman siksaanya dan solusinya justru kita mendekatiNYA, mendekati Kitabnya, mau mempelajari dengan cara mencaritahu kepada siapa kita akan bertanya. Karena Alloh SWT ada tapi sifatnya ghoib , tidak kasad mata, manusia yang diutus Alloh (Rosululloh , Muhammad SAW ada, tetapi sekarang sudah dipanggil Alloh mendahului kita. Perantara kita takut pada Alloh adalah dengan wujud peninggalan , warisan Nabi Muhammad SAW yaitu al-Quran dan Hadits. Itupun benda mati sebatas kertas bertuliskan huruf Arab.</p>
<p>Nah ! Quran Hadits dapat menjadi &#8220;hidup&#8221; apabila ada yang menghidupkan, merekalah orang yang selalu berusaha mendalami , mengamalkan se maksimalnya dan mau intisyar , menyebarluaskan, mengajar mengaji, amar makruf nahi mungkar, membentuk majelis ta&#8217;lim dsb.</p>
<p>Sesungguhnya Alloh maha waspada dengan apapun yang kita kerjakan. Semuanya tak luput dari monitor yang dipasang disegenap penjuru, bahkan malaikat tidak pernah lalai menguntit di sebelah kanan dan kiri kita. Mencatat gerak-gerik kita sebagai bahan reportase nanti dalam menjatuhkan hukuman bagi kita di mahkamah akhirat kelak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binanurani.com/hasil-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
