Empat Permasalahan Kendala Belajar Agama Islam ( Faktor Ekstern )
Belajar ilmu agama Islam sebagai penyeimbang kehidupan manusia, jalan keselamatan dan kebahagiaan hakiki dambaan setiap insan, ternyata dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang pada kondisi tertentu berpotensi menjadi faktor kendala, antara lain :
1- Masalah Tempat
Akan kemana dan bagaimana caranya untuk menemukan tempat , lembaga atau nara sumber yang benar-benar siap menyampaikan ilmu agama Islam kepada masyarakat dengan cara menunjukkan jalan kebenaran berdasarkan data dan fakta otentik bersumber kepada dalil di dalam Kitab Suci Al-Quran dan Sunah/tuntunan Rosululloh SAW yang terhipun dalam hadits-hadits shohih.
2- Masalah Materi dan Pengajar / Ustadznya
Masalah materi pokok sumber ilmu dan pembelajaran agama sebenarnya sudah jelas, karena pedoman agama Islam adalah al-Quran dan al-Hadist , sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW yang terekam dalam Hadis Riwayat Malik fii Muato’ juz 3 hal.95
“Taroktu fii kum amroini lan tadhil-lu ma tamasktum bi hima kitaabillahi wa sun-nati nabiyihi,” = Telah aku tinggalkan dua perkara di kalangan kamu semua, (yang mana) kamu semua tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, (yaitu) Kitabillah (Al-Quran) dan Sunah / tuntunan Nabinya Alloh (al-Hadis).
Referensinya begitu jelas, namun kenyataanya praktek di lapangan permasalahan materi ini belum memasyarakat sebagaimana yang diharapkan.
Demikian juga siapa pengajar (ustadz) yang memiliki daya juang dengan ridho sanggup menegakkan syiar agama yang secara Lillaahi Ta’ala (karena Alloh) memberikan ilmunya, membimbing serta mengantarkan pemahaman umat dengan sobar, tekun. Melayani dan mendatangi masyarakat yang meminta kursus privat meskipun hanya mengajar satu atau dua orang? Ikhlas !
3- Masalah Metode Pembelajaran / Pengajian.
Metode pembelajaran ilmu agama di kalangan umat selama ini pada umumnya belum efektif dan mengenai sasaran, belajar ilmu agama hanya dengan mendengarkan ceramah ulama di podium tabligh akbar, melalui media elektronik (radio, televisi, internet) , ataupun tulisan di media cetak yang berpola komunikasi searah, rasanya belum memperoleh hasil yang optimal. Boleh jadi materi yang dibawakan justru tidak menyentuh permasalahan pembinaan umat dengan tuntunan perilaku kehidupan sehari-hari, atau hal-hal yang sering disampaikan hanya sisi luarnya saja, tidak mendalam.
Sementara mempelajari agama dengan membeli dan membaca sendiri buku-buku agama karangan para penulis, boleh jadi membuka peluang timbulnya berbagai keraguan. Semakin banyak membaca kitab-kitab terjemahan yang dibeli di toko kitab/buku belum tentu semakin mantap dalam keyakinan terhadap kepastian hukum suatu amalan atau topik tertentu.
Hal ini dimaklumi karena untuk satu topik saja, cukup banyak para penulis dari berbagai latar belakang yang berbeda membuat tafsir (penjabaran ) yang berbeda-beda pula. Alhasil sulit untuk disimpulkan , yang berikutnya muncul adalah keraguan bagi para pencari “hidayah” / petunjuk ilmu agama, bahkan dapat berpotensi semakin “membingungkan dan membosankan “.
Satu hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika alam reformasi dengan kebebasan berpendapat juga memasuki ranah dakwah Islam, maka akibat yang ditimbulkan adalah semakin banyaknya ikhtilaf ( perbedaan pendapat) di kalangan para pemuka agama. Sebagaimana fenomena perpecahan Islam yang sudah sama-sama kita lihat pada keseharian.
Timbul tanda tanya adakah lembaga atau penerbit yang membuat “quality control” terhadap mutu sebuah buku agama agar tetap berada dalam koridor pengertian yang murni berdasar pedoman agama Islam Kitab Suci Al-Quran dan Sunah Rosulillahi SAW?
Jika terjadi keraguan dari buku-buku terjemahan yang dijua bebas, mudahkah kita menghubungi nara sumber atau penerbit untuk melakukan konfirmasi, cross chek , terlebih untuk berbincang-bincang sepuasnya ?
INI MASALAH YANG URGENT (MENDESAK) TERHADAP PENJAGAAN KEUTUHAN DAN KEMURNIAN ILMU SERTAÂ AMALAN AGAMA ISLAM YANG KITA CINTAI,
KITA MUSTI CARI SOLUSINYA!
4- Masalah Lamanya Waktu Belajar dan Besarnya Biaya.
Banyak di antara kita memiliki kegiatan sebagai rutinitas hidup, menyita banyak waktu dan perhatian, seperti bekerja, mengurus anak, kuliah, serta berbagai kesibukan dalam rumah tangga lainnya , sehingga perkara mengaji mendalami agama sebagai bekal masa depan akhirat kurang mendapat perhatian serius .
Keinginan untuk mendalami ilmu agama Islam sebagaimana teman-teman yang belajar intesif di pondok pesantren, konsekuensi logisnya adalah meninggalkan aktifitas sehari-hari. Kalaupun datang ke pondok pesantren yang mungkin dapat dilakukan paling-paling hanya dua samapai tiga hari itupun sebatas “bertamu” , sedangkan untuk ” nyantri ” mau tidak mau haris meluangkan waktu yang lebih lama , juga niyat dan konsentrasi pikiran kita, belum lagi biaya yang mesti dialokasikan selama mondok di pesantren .
Lalu bagaimana usaha kita ?
Kami mengusulkan suatu cara , semoga dapat membantu masalah Saudara dalam usaha menemukan tempat dan metode belajar yang representatif. Hasil saya mondok di pesantren plus pengalaman menjadi ustadz selama 17 tahun hingga sekarang kita onlin-kan  di sini.
Saudara dapat bergabung , belajar agama Islam secara intensif dengan metode yang sudah kami siapkan, pengeluaran biaya yang jauh lebih hemat, dengan tidak meninggalkan aktifitas sehari-hari dan meninggalkan rumah.
October 26, 2009
Tags: Faktor Kendala Belajar Agama Islam Posted in: Hasil Pengajian Langsung, Mengapa Mempelajari Agama itu Penting?, My Articles, Teks Nasihat, Tips Bermanfaat












Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.