Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-2 : Hirsun

Hirsun / Minat, Hasrat, Motivasi

Hasrat/minat seseorang dalam bidang tertentu akan memberikan pengaruh terhadap kesungguhan dan faktor keberhasilan dalam bidang tersebut. Faktor hasrat/minat inilah yang membuat kita tetap bersemangat dalam pekerjaan meskipun menghadapi kesulitan dan berbagai rintangan, namun dengan senang hati dan betah kita tetap melakukannya.

Nilai pengalaman yang lebih berharga dapat kita rasakan begitu kita mampu mengatasi kesulitan tersebut.

Demikian juga dengan kegiatan mempelajari ilmu agama, seberapa jauh minat kita akan sangat berpengaruh terhadap perolehan ilmu dan kepahaman. Banyak terjadi, pada awalnya belum / tidak berminat tetapi karena mencoba dan mulai merasakan kepuasan atas perolehan pengetahuan dan wawasan yang makin meningkat, maka akhirnya menjadi kebiasaan dan bahkan ketagihan.

Rasa keingintahuan seseorang juga dapat menumbuhkan antusias dalam suatau kegiatan.

Sebagai contoh, seseorang yang berhasil menempati rangking teratas nilai akademik sebuah lembaga pendidikan / perguruan tinggi, adalah mereka yang tidak hanya bersungguh-sungguh / antusias dalam menerima pelajaran, namun mereka juga dengan senang hati sanggup mencari tahu lebih dalam lagi seputar mata kuliah dibanding teman-temannya, sehingga mereka mempunyai keunggulan.

Pikiran manusia itu unik, karena dapat diprogram.

Cara untuk memprogram motivasi ke dalam pikiran kita dapat juga dengan memahami dan meyakini bahwa menuntut ilmu agama / mengaji adalah merupakan kebutuhan manusia yang paling hakiki, meskipun memang ada beberapa hadis menjelaskan bahwa menuntut ilmu agama adalah merupakan suatu kewajiban.

Sebagaimana Rosululloh SAW bersabda dalam hadis Riwayat Ibnu Abdil Bar “uth’lubul ilma wa law bis-shin fa inna tholabal ilmi fariidhotun ‘ala kulli muslim ….al-hadis” Kamu sekalian mencarilah ilmu (agama) walaupun sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu adalah kewajiban bagi tiap muslim (orang Islam).

Dalam hadis tersebut mengaji adalah kewajiban yang kalau dikerjakan akan mendapat manfaat dan apabila tidak dikerjakan pastilah ada suatu sanksi/akibat.

Pemahaman bahwa mencari ilmu agama itu bagi orang Islam hukumnya wajib=harus, adalah karena orang itu mengaku Islam yang berarti siap menyerah untuk mencari keselamatan, orang yang senantiasa ingin mendapat ridho Alloh SWT, takut ancaman Nya, sewaktu-waktu memenuhi panggilan Nya menghendaki tempat tinggal yang mulya di sisiNYA.

Mari kita coba kita lihat penempatan kata “Wajib” pada kasus yang lain, sbb:

“ Guru dan segenap karyawan / staf (pegawai negeri) di lingkungan Dinas Pendidikan pada hari Senin dan Selasa diwajibkan mengenakan seragam KORPRI”.

Nah bagi yang mengaku jati dirinya sebagai PNS tentu saja menyadari karena sudah menjadi kewajibannya, toh mereka sanggup mengerjakan,  tidak ada masalah.

Bukankah kewajiban mengenakan seragam KORPRI terbatas pada lingkup tertentu. Sedangkan pegawai yang bukan PNS tetap tidak terkena hukum wajib, misalkan pegawai dari kontraktor yang dipekerjakan di kantor itu, pegawai dari instansi swasta yang mengadakan praktek lapangan, dll.

Mengapa pegawai negeri sanggup mengenakan seragam dan tidak protes meskipun juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban lain yang ukurannya lebih berat, misalnya harus apel upacara bendera pada waktu terik matahari dll.?

Ya, karena mereka sudah merasakan hasilnya menerima gaji pokok setiap bulan yang (selama ini) bisa terjamin dibayar, disamping juga berbagai fasilitas, tunjangan (asuransi) kesehatan, THR, gaji ke 13, SHU koperasi, terlebih kelak suatu saat berharap mendapat gaji pensiun, di saat fisik dan mental sudah lemah tidak mampu lagi bekerja. Harapan dapat menikmati hari tua, dimana jaminan kehidupan yang layak insyaAlloh tidak perlu dikawatirkan lagi.

Pada saat kondisi ekonomi negara yang semakin tidak menentu, menjadi PNS adalah merupakan primadona / impian bagi ribuan bahkan jutaan angkatan kerja Negara Indonesia yang senantiasa menunjukkan angka peningkatan setiap tahunnya.

Bahkan seorang kandidat sanggup melakukan “berbagai macam cara” demi dapat diterima / lulus mencadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Nah, lho !!

Ini hanya contoh , mengapa mereka termotivasi / sanggup melakukan?!,

yak tentu karena tahu hasilnya.

Contoh lain,

Kita lihat fenomena orang berobat, mengapa mereka jau-jauh sanggup datang ke rumah sakit, meski terkadang melalui antrean yang panjang. Konsultasi dengan dokter / para medis, dinasihati untuk melakukan terapi ini dan itu, bahkan di arahkan agar menghindari makanan yang menjadi kegemaranya, hingga sanggup membayar sejumlah uang sebagai biaya perawatan.

Mengapa mereka sanggup demikian, tentu karena punya motivasi ingin sembuh dari penyakitnya.

Demikian juga dengan mengaji ilmu agama, mengapa kita mempunyai motivasi untuk melakukannya?

Jadi Kewajiban = keharusan mencari ilmu tentang agama juga terbatas pada kalangan orang yang Islam atau orang yang mau belajar tentang Islam.

Ya kalau tidak mengaku /mengakui Islam, tentu tidak diharuskan (tidak diwajibkan) mengaji, meskipun demikian di beberapa ayat lain di al-Qur’an maupun butiran al-hadis banyak seruan kepada manusia agar ingat dan mau melaksanakan ibadah sebagaimana perintahNya agar kelak disayang Alloh SWT.

Saudaraku,

Kita ini manusia dihidupkan di bumi hanya sekali yang umurnya tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan masa sebelum kelahiran kita, apalagi ditambah lamanya masa setelah dikubur nanti sampai akhirat, “kholii dina fii haa abada”. Kekal di dalam akhirat (surga / neraka) selama-lamanya…… Subhaanalloh!

Coba silahkan mengamati lagi “Skema Episode Kehidupan Manusia”.

Dengan memahami dan mensikapi bahwa mengaji itu merupakan kebutuhan kita sendiri sebagaimana orang makan dan minum, maka insyaAlloh kegiatan mempelajari agama ini dapat kita jadikan sebagai tobi’at / kita budayakan dengan senang hati agar bisa berjalan lancar, tidak banyak masalah.

Perhatian!!

Memahami bahwa mengaji agama itu sebagai kewajiban, terkadang kesannya menjadi “beban”, so kalau kita belum siap mental yang terjadi adalah menunda-nunda, betul kan!

akan berbeda bila kita mensikapi bahwa mengaji sebagai kebutuhan kita sendiri.

Padahal mempelajari ilmu agama itu sebenarnya mengasyikan , benar lho!

Ya, karena dengan mengerti tentang makna al-Quran dan al-Hadis yang kita pelajari serta menghayatinya ternyata menghasilkan kepuasan batin tersendiri.

Sebagai contoh diskusi antara para sohabat dengan Rosululloh SAW yang kita hayati, seolah-olah membawa kita memasuki situasi masa kehidupan Rosululloh SAW bersama para sobahat.

Kisah dalam al-Quran maupun al-Hadis yang agak panjang terkadang mirip sebuah kisah dramatic seni theater, seakan kita pun terhibur dibuatnya.

Dengan cara berpikir demikian jadinya tidak terasa berat, yang tadinya mengaji serasa beban, nah sekarang menjadi kebutuhan, apalagi kalau sudah mampu menjadikan mengaji sebagai hobby, insyaAlloh kita akan selalu merasa haus, dengan semakin banyaknya ilmu yang kita serap juga akan membuat kita lebih cepat faham agama.

Related Post

#

Usaha Mengumpulkan Poin Pahala Sebanyak-banyaknya

#

Semangat Mencari Ilmu Agama

#

HR.Ibnu Madjah Juz 2 No.1395:”Menemukan Barang Yang Hilang”

#

Mengisi Hati Yang Kosong

September 10, 2009  Tags:   Posted in: Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam, My Articles

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.