Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-4 : Bulghotun = Bekal, Biaya

Segala macam kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan sukses apabila disertai dengan kesungguhan dalam mengelolanya. Biasa terdengar ungkapan di masyarakat “ uang memang bukanlah segala-galanya nya, namun tanpa uang, segalanya akan susah”, nampaknya ungkapan tersebut ada benarnya.  Kelancaran suatu kegiatan sulit untuk dipisahkan dengan pembiayaan.

Sangat terasa memang zaman sekarang serba uang, patutlah kita simak sebuah hadits riwayat At-Tobroni “Manakala suatu saat pada akhir zaman bagi manusia tidak boleh tidak (pasti) memerlukan beberapa dirham dan beberapa dinar untuk menetapi (menjalani) kehidupan dunia dan kehidupan agama”.

Mari kila lihat ke belakang sebentar pada masa Rosululloh SAW, dimana dikisahkan sebuah keluarga kecil seorang sohabat bernama Tsa’labah bersama seorang istri yang hanya mempunyai satu lembar kain. Setiap selesai solat berjamaah bersama Rosululloh SAW, Tsa’labah senantiasa bergegas pulang.

Demikian berulang-kali sehingga menarik perhatian Rosululloh SAW, setelah dipertanyakan perihal tersebut. Dijawabnya bahwa ketika Tsa’labah solat bersama Rosululloh SAW, maka istrinya menunggu di rumah. Tsa’labah segera bergegas pulang seusai salam karena istrinya menunggu kain yang dipakainya untuk mengerjakan solat agar tidak terlambat..

MasyaAlloh !

Sebuah keluarga kecil terdiri dari suami dan istri hanya punya satu potong kain yang layak pakai.

Pada masa itu bisa mungkin saja dapat berjalan. Namun sulit rasanya membayangkan kalau hal itu terjadi pada masa sekarang, dimana nilai persaingan hidup yang demikian tinggi, segala barang dan jasa penunjang kehidupan mempunyai nilai tukar / nilai jual yang sangat berarti.

Mengaji ilmu agama dan segala kegiatan yang berhubungan dengan ibadah adalah bagian dari  kehidupan yang sulit untuk dipisahkan dengan pembiayaan.

Logika yang sederhana, teman-teman kita yang berangkat mengikuti pengajian Quran Hadits secara rutin, terutama yang rumahnya jauh dari majelis ta’lim, maka untuk kelancaran jalannya sepeda motor atau mobil, mereka harus membeli bensin. Kalaupun tidak memiliki kendaraan pribadi maka naik kendaraan umum adalah pilihan ke-dua. Terlebih untuk sarana penunjang materi pengajian mereka juga mengeluarkan biaya untuk membeli Kitab Suci Al-Quran dan Kitab Al-Hadits.

Bagi teman kita yang ingin belajar ke pondok pesantren, maka makin besar pula dana yang musti dikeluarkan.

Seorang laki-laki dari Madinah, demi menuntut ilmu satu potong al-Hadits mereka sanggup melakukan ekspedisi ke Damaskus, Syria. Sebuah perjalanan panjang hingga 30 hari dengan jarak tempuh mendatar hampir 900 kilo meter. Tentu tidak lepas dari pengeluaran dana untuk perbekalan / logistic, transportasi dll.

Sedangkan ilmu agama meskipun nilainya tinggi tak ternilai namun tidak boleh diperjualbelikan / ditukar dengan nilai nominal tertentu.

Untuk pelaksanaan pengajian online di madrasahonline.com , maka biaya yang mungkin dikeluarkan oleh para peserta kursus/pengajian adalah sebatas untuk membeli / memesan kitab al-Quran, kitab al-Hadits maupun e-book penunjang kelancaran pelaksanaan pengajian.

Hal ini tentu dimaklumi, para peserta pengajian yang langsung mengikuti secara off line, mereka juga mengeluarkan biaya untuk membeli kitab-kitab sebagai pendukungnya, sebagaimana orang membeli alat, sarana ibadah seperti sarung, mukenah untuk solat apalagi orang akan menunaikan ibadah haji.

Sebenarnya kalau kita kaji lebih jauh lagi, kita ini hidup di dunia sudah diberikan banyak nikmat antara lain , kesehatan, pikiran yang cerdas, dan juga rejeki.

Nah ini semua baik pemberian rejeki / harta kelak di akhirat, kita akan diminta pertanggungjawaban dari Alloh SWT. Bagaimana akibatnya kalau kita tidak dapat menggunakan dengan benar sesuai dengan kehendakNYA?

Saudaraku yang saya hormati,

Mari kita perhatikan hadits Kitabu Sifatil Jannati wa Nar hal 56-57. fii Muchtarul Adilah. Dalam hadits itu bersabda Rosululloh SAW : ” Didatangkanlah anak Adam (seluruh manusia) pada hari kiyamat sebagaimana anak kambing ( berjubel saking banyaknya), mereka dihentikan di hadapan Alloh, kemudian Alloh SWT berfirman kepada mereka “ Aku telah memberimu harta, memberimu banyak nikmat (di dunia) lalu apa yang sudah kau perbuat (dengan semua itu)?. manusia menjawab ” Wahai tuhanku, aku telah mengumpulkan harta itu, aku telah mengembangkan harta itu, maka aku tinggalkan lebih banyak lagi, untuk itu wahai Alloh kembalikanlah kami (ke dunia ) kami akan menghadapMU kembali dengan membawa semua harta itu. Alloh Berfirman lagi ” tunjukkanlah apa yang sudah kamu perbuat (dengan harta itu)” hamba menjawab lagi Wahai tuhanku, aku telah mengumpulkan harta itu, aku telah mengembangkan harta itu. maka aku tinggalkan lebih banyak lagi, untuk itu wahai Alloh kembalikanlah kami (ke dunia) kami akan menghadapMU kembali dengan membawa semua harta itu. Maka ketika hamba tidak dapat menunjukkan (dengan semua pemberian Alloh untuk beriman dan beramala solih) maka dilemparlah hamba itu ke dalam neraka.

Kalau kita sadari dengan benar, kita ini lahir ke dunia dalam keadaan bayi yang lemah tidak berdaya dan tidak punya apa-apa, kemudian Alloh memberi kekuatan, pikiran yang normal dan cerdas, kalau dapat bekerja sehingga mendapat rejeki . Itu semua pemberian Alloh. Kita harus faham semua yang kita miliki ini harta, jabatan, pangkat bahkan nyawa sekalipun hakikatnya adalah pinjaman yang setiap saat diminta kembali, kita tidak dapat menolaknya. In-na lillahi wa in-na ilaihi roji’un.

Nah termaktub dalam hadis di atas , orang dilempar ke neraka karena selama hidupnya diberikan nikmat yang banyak oleh Alloh tetapi tidak menyadari , sehingga semua pemberian nikmat juga hartanya tidak digunakan untuk hidup menetapi jalan yang benar sebagaimana perintah Alloh SWT yang menghendaki kehidupan ini.

Tentu kita tidak ingin bernasib celaka di akhirat kelak, bukan!

Lalu bagaimana caranya?

Ya, pergunakan kesempatan hidup yang hanya sekali dan sebentar ini sebaik-baiknya, segala pemberian Alloh kita curahkan untuk melancarkan dan mengembangkan agama Alloh, kita jangan sayang, bakhil untuk pengeluaran dana yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, menginfakan sebagian harta demi tegaknya syiar agama Alloh.

Alloh SWT berjanji dan sudah dipatenkan dalam surah Al-Muzamil (73) ; 20 “ …..wa ma tuqod-dimu li anfusikum min khoirin tajidu hu ‘indallohi , huwa khoiron wa a’dhoma aj’ron, wastaghfirulloha in-nalloha ghofurun rohiim”

…..Dan apapun yang kamu dahulukan untuk dirimu dari suatu kebaikan (mengeluarkan dana ke sabilillah) maka akan kamu jumpai di sisi Alloh (di akhirat) , itu adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya. Dan mintalah ampun kepada Alloh sesungguhnya Alloh maha oengapun dan maha penyayang”.

Mengeluarkan dana untuk membeli kitab suci A-Quran dan Hadits serta bahan pendukung lainnya dengan niyat untuk memahamkan diri dalam ilmu agama Alloh SWT adalah termasuk pembelaan (jihad) di jalan Alloh (sabilillah). Karena hakikatnya “jihad” adalah membela / memperjuangkan tegaknya agama Alloh SWT yang sepatutnya diawali dari diri sendiri.

Bukankah kita bersyukur membela agama Alloh SWT dengan belajar mengaji untuk diri sendiri , ternyata Alloh sudah menilai sebagaimana sebuah perjuangan, biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan agama Alloh akan diberikan imbalan /pahala yang berlipat ganda di akhirat.

Dengan hidup menetapi perintah Alloh menjadi orang Islam yang kaf-fah ( totalitas) < surah Al-Baqoroh (2) ;208>, diawali dengan niyat dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, maka dengan sendirinya harta kita pun menjadi barokah, segalanya yang kita miliki di dunia ini menjadi barokah semua.

Kita berharap menemukan keseimbangan hidup duniawi dan ukhrowi.

Amin.

October 17, 2009  Tags:   Posted in: Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam, My Articles

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.