Tips Ingin Mati Syahid di Rumah ?

Mati syahid tidak selamanya identik dengan mengangkat pedang, tetapi hakikatnya adalah LI TAKUNU KALIMATULLOHI ULYA = Supaya agama Alloh menjadi mulya.

Qola Rosulullohi Shol-lalohu ‘alaihi wa salam “ Al-mutamas-siku bi sun-nati ‘inda fasadi um-mati lahu ajru syahiid “ = Bersabda Rosulullohi SAW “ orang yang berpegang teguh kepada sunahku di saat kerusakan umatku , maka baginya ( pahala mati) syahid.

Hadits Riwayat Tobroni , fii Kitabul Khutbah 42

Hadits yang meniupkan kabar gembira buat kita … ;)

Ya, bagaimana tidak, mati syahid (mati yang disaksikan) sebuah predikat dan derajat yang tinggi di sisi Alloh sebagaimana derajatnya para syuhada’ yang berjuang membela agama Alloh dengan harta, tenaga bahkan nyawa jadi taruhannya.

Pada masa Rosululloh SAW tercatat 70 orang peserta perang Uhud yang sudah dijamin surganya, meski di antara beliau masih hidup saat paripurna perhelatan perang akbar tersebut.

Surga , suatu kehidupan di hari akhir, masa sesudah hancurnya dunia dan seisinya. Rosulullohi SAW sudah banyak memberikan gambaran betapa jauh dan dahsyatnya keadaan hidup di akhirat kelak baik yang beruntung berhasil masuk surga ataupun yang bernasib celaka menjadi narapidana di neraka.

Dapatkah kita yang hidup pada masa sekarang tetap dapat menikmati kehebatan pahala mati syahid ? .

Mengapa ? situasi dan kondisi jaman kita in tentu saja berbeda dengan masa hidup Rosulillahi SAW. Pada masa itu Islam sedang mulai dibentuk di muka bumi, tidak sedikit pertentangan dari kaum kufur yang tidak menghendaki agama Islam berkembang. Saat masih di kampung asalnya Makah, berkali-kali Rosulullohi mendapat ancaman pembunuhan, hijrah ke Madinah adalah alternatif yang Alloh SWT bisikkan.

Umat beriman di bawah kepemimpinan Rosulillahi SAW harus bertahan diri demi kelangsungan hidup yang sekaligus membawa nasib hidup matinya Islam untuk masa yang akan datang. Peperangan tidak dapat dihindari lagi. Mereka yang ikut berperang dengan niyat “li takunu kalimatullohi ‘ulya”= agar kalimat(agama) Alloh luhur/mulya, itulah yang mendapat derajat SYUHADA’.

Meski sekarang Islam tidak ada peperangan secara fisik melawan musuh-musuh agama, namun dengan hadits di atas kita tidak perlu kawatir. Masih ada peluang mendapatkan pahala syahid yaitu dengan menetapi sunnah /tuntunan Rosulillahi SAW.

Di sisi mana keberatan menetapi sunah?

Menetapi sunah di saat kerusakan umat di sekeliling kita ternyata memiliki beberapa aspek yang identik dibandingkan dengan mengikuti peperangan bersama Rosulillahi SAW.

Perbedaannya jelas yang mereka hadapi adakah musuh agama yang mengancam keselamatan nyawa, pedang, tombak, panah disandangnya, mereka lalai dalam taktik maka leher taruhannya. Mereka mendapat resiko terbunuh atau terluka secara fisik. Musuh dapat diidentifikasi dengan relative jelas. Sedang kita sekarang yang menenatapi hidup mengikuti tuntunan Rosulullohi SAW sebagai realisasi iman kepada Alloh dan Rosul, kitab relatif jarang mendapat serangan fisik dari musuh agama (orang yang benci dengan Islam). Umat Islam yang mengikuti tuntunan yang terdapat dalam kitabilah dan al-hadits memiliki ciri spesifik dan begitu mudah diidentifikasi

karena terlihat mencolok disbanding yang lain.

Sedang kesamaannya bahwa keduanya diuji oleh Alloh melalui umat manusia yang berada di sekitarnya. Kalau mereka para sohabat tubuhnya dapat terluka oleh sabetan pedang, maka umat sekarang hatinya dapat terluka meninggakan perasaan sakit hati oleh cemoohan, caci maki serta fitnah yang ditaburkan oleh orang yang benci terhadap kebenaran agama Alloh.

Kecobaran, tekat bulat dan menjaga niyat “ mencari ridho Alloh dan menghindarkan murka Alloh “ harus diutamakan, keyakinan akan pertolongan dari Alloh SWT dapat menyejukkan selama menempuh perjalanan hidup .

Jihad fii sabililah tidak selamanya identik dengan “ mengangkat pedang, berseragam, dikomando” namun kita sekarang “bersenjatakan” Kitab Suci Al-Quran dan Kitab al-Hadits” mengkaji, mengamalkan dan menyebarluaskan pada hakikatnya kita juga adalah pejuang di jalan Alloh SWT yang berharap mati syahid di rumah sendiri, amiin.

December 25, 2009   Posted in: Tafsir Al-Hadits, Tips Bermanfaat

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.