Isu Gugatan Cerai Teh Ninih Kepada Aa Gym

Dai kondang, Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dengan dua orang istrinya. Diberitakan terjadi gugatan cerai sebagaimana yang saya lihat dari http://id.news.yahoo.com/ Kapanlagi.com – Jumat, Oktober 30 .

Kabarnya, istri pertama Aa Gym, Teh Ninih menggugat cerai suaminya itu di Pengadilan Agama, Kota Ciamis. Jika benar, maka hal ini adalah preseden buruk bagi pelaku poligami. Saat coba ditelusuri di pengadilan Agama Bandung tempat teh Ninih bermukim, tak ada nama beliau sebagai penggugat. Juru bicara Pengadilan Agama Bandung, H. Oshin bahkan membantah jika wanita bernama Ninih Mutmaainah telah memasukkan gugatan.

“Nggak ada nama Ninih yang dikabarkan telah menggugat cerai. Dan sampai detik ini juga nggak ada,” kata H Oshin saat ditemui wartawan di Pengadilan Agama, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/10) siang.

Kabar mengenai gugatan cerai yang dilayangkan oleh wanita yang akrab disapa teh Ninih itu memang sudah ramai dibicarakan. Kabarnya, teh Ninih menggugat cerai Aa Gym karena merasa diperlakukan tidak adil oleh dai kondang tersebut. (kpl/adt/bar).

Saudaraku !

Mendengar orang bercerita dari mulut ke mulut atau membaca tulisan orang seperti di atas bagaimana sikap kita sebagai muslim ?

Untuk itu , saya tertarik mengangkat tema di atas buat tambahan posting kita kali ini, semoga bermanfaat.

Mensikapi pemberitaan tersebut maka beberapa jurus yang sepatutnya kita lakukan  sebagai sesama muslim diantaranya sebagaiberikut :

1. Amati , seberapa penting kita membicarakan atau mengurusi hal tersebut? Kenapa kita menanggapi, membicarakan bahkan menggunjingkan ? dan kenapa pula seandainya kita tidak menanggapi ?. Menggunjing / ngrasani/ “ghibah” boleh jadi “mengasyikkan” tapi kalau memang tidak ada kepentingannya mendingan kita urusi masalah kita yang lebih penting dan mendesak. Misalnya , bagaimana meningkatkan pendapatan yang halal, gimana meningkatkan pengetahuan ilmu agama, melakukan pengkajian ulang makna Qur’an dan Hadits (nderes) yang jelas bermanfaat  dll.
2. Kalau kita merasa terpanggil untuk ikut campur karena suatu tuntutan , misalnya berhubungan dengan dengan famili kita, maka sebelum mempercayai sebuah berita lebih baik kita lakukan “ tabyin” atau konfirmasi kalau perlu cross chek  sebagaimana pesan Alloh SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an surah Al-Hujrot (49) ayat 6 “ Yaa ay-yuhal-ladziina amanu in ja-akum fasiqun bi naba-in fa tabay-yanuu an tushibu qouman bi jahalatin fa tushbihu ‘ala ma fa’altum nadimin” = Hai orang-orang iman , jika ada datang kepadamu orang fasik dengan membawa berita maka carilah kejelasan agar kamu tidak menuduh seuatu kaum dengan cara bodoh maka sebab amalan kamu (akhirnya kamu jadi) menyesal.

Saudara ,

Boleh terjadi berita yang kita dengan dari satu pihak belum tentu sesuai/benar seperti apa yang terjadi sebenarnya, ibarat “ buah bibir “ atau “ kembang lambe” maka seseorang bisa saja bicara sesuka hatinya, maka kita supaya meningkatkan kewaspadaan. Akan lebih adil kalau dilakukan “tabyin” / konfirmasi , yaitu melacak langsung kepada sumber berita atau pelakunya. Kalau kita latah mempercayai sebuah berita maka seandainya ternyata berita itu adalah fitnah maka kita jadi orang yang rugi dan menyesal.

Seperti ayat di atas “ dengan cara bodoh” maksudnya tidak melakukan “tabyin” tetapi langsung percaya bahkan ikut-ikutan , nah kalau sumbernya ternyata orang yang membuat fitnah ( mungkin dilatarbelakangi rasa iri, dengki) berarti kalau kita ikut menyebarkan fitnah, maka cipratan dosa pun ikut kita tanggung, na’udzubillahi min dzalik.

3. Dalam setiap penggalan kata atau bunyi yang leluar dari lisan kita, hendaknya selalu dikoreksi, apakah pembicaraan kita itu baik, apakah manfaatnya, apakah kira-kira ada pihak lain yang mungkin tersinggung oleh “bunyi” yang keluar dari bibir kita?. Kalau sekira bunyi dari bibir kita bakal tidak mengenakkan pihak lain, mendingan kita diam.  Ingatlah pesan Rosulullohi SAW yang dilaporkan oleh Abi Huroiroh yang sekarang dihipun dalam Sohih Bukhori sebagaiberikut :

“ An Abi Huroiroh qola, qola Rosulullohi SAW

< man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir fa laa yu’dzi jarohu,

Wa man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yukrim dhoyifahu,

Wa man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khoiron aw liyasmut >

= Barang siapa yang beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaklah jangan menyakiti tetangganya, dan Barang siapa yang beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaklah memulyakan (menghormati) tamunya, dan Barang siapa yang beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam “

Mendingan diam dari pada perkataan kita tidak “bermakna kebaikan” untuk diri sendiri mauun untuk orang lain. Dengan kita diam dari berbicara yang kurang manfaat berarti memberi kesempatan hati dan pikiran kita untuk merenungkan hal-hal yang lebih baik. Dzikir, menghapalkan do’a, merencanakan ide-ide yang positif buat kemaslahatan hidup kita, dll.

Berita, gossip tentang kehidupan pribadi seorang public figure kini seakan sudah menjadi “ produk “ yang laris manis di kalangan dunia hiburan. Berita atau isu adakalanya ikut membesarkan nama seorang pendatang baru di rimba dunia hiburan , namun di sisi lain seorang artis menjadi stress karena serangan pemberitaan negative , seakan kehidupan pribadinya disiarkan dan sangat dinanti penontondan pembaca, dianggap sebagai tontonan di panggung hiburan, kasihan juga mereka.

Berita isu gugatan cerai The Ninih kepada Aa Gym boleh jadi berita menarik yang memenuhi halaman surat kabar, tabloid dll.

Semoga kita dihindarkan dari berpikir, berucap dan bertindak yang kurang bermanfaat, sebaliknya semoga waktu , pikiran kita dapatlah bermakna positif bagi kemaslahatan hidup kita dan keluarga masa kini dan masa mendatang, amin.

October 30, 2009  Tags:   Posted in: Entertainment, Tafsir Al-Hadits, Tafsir Al-Quran, Tips Bermanfaat

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.