Enam Syarat Mencari Ilmu Agama Islam. Bag-1 : Daka’un

Meskipun bukan merupakan persyaratan mutlak, namun enam hal berikut dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu agama Islam. Para ulama telah menorehkan ke-enam syarat tersebut dalam sebuah syair yang sudah termashur di kalangan masyarakat. Peninggalan para ulama masa lalu tersebut sering diperdengarkan dalam bentuk syairan (tembang) yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut :

Ala lan tanalul ‘ilma il-la bi sitatin

Sa un bika ‘an majmu’iha bi bayani

Dakaun wa khirsun was tibarun

wa bulghotun wa irsyadu ustadin

wa thulu zamani “

Arti dari syair/ tembang di atas adalah sebagai berikut :

” Engkau tidak akan dapat memperoleh ilmu , kecuali dengan enam perkara

Akan aku ceritakan kepadamu beserta penjelasannya,

Berakal , Keinginan (motivasi ) , Kesobaran, Bekal, Petunjuk ustadz.

dan Waktu yang lama”

Penjelasan lebih lanjut tentang enam perkara di atas secara berurutan sebagai berikut :

Pertama – Daka’un ( berakal )

Kedua – Khirsun ( berkeinginan )

Ketiga – Ishtibarun ( kesobaran )

Keempat – Bulghotun ( bekal )

Kelima – Irsyadu Ustadin ( petunuk guru )

Keenam – Thulu Zamani ( masa yang panjang )

Baik selanjutnya akan diruraikan secara lebih mendetail.

Pertama – Daka’un /Berakal.

Secara definif sebetulnya sederhana saja, yang dimaksud berakal adalah Dong atau mudeng ( Bahasa Jawa ) atau punya daya dong, sehingga seseorang kalau sudah punya daya dong saat menerima ilmu bisa nyambung dengan masalah yang ia dapatkan menngerti maksud atau memahaminya.

Kemampuan menangkap suatu pengertian, dapatlah diberikan ilustrasi sebagai berikut :

Apabila nara sumber*) bermaksud menyampaikan pesan berbunyi “ABC” maka audience juga menerima dan meyakini sehinggalah masuk ke dalam kepahaman / keyakinannya berbunyi “ABC” sehingga praktek / amalannya juga “ABC”.

*)Yang dimaksud nara sumber pada masa sohabat adalah Rosululloh SAW sendiri sebagai pembawa wahyu /risalah kepada umat manusia, sedangkan masa sekarang (sepeninggal Rosululloh SAW) adalah juru penerang agama, sebagai penerus penyebarluas risalah agama dari Rosululloh SAW.

Kemampuan menerima seperti ini kurang lebih yang dimaksud dengan “daka’un”.

Daka’un sebagai salah satu syarat dalam menuntut ilmu agama, tidak dimaksudkan sebagai kecerdasan tingkat tinggi / genius sebagaimana orang yang mempunyai IQ tinggi semata, tetapi lebih kepada kesiapan pikir seseorang untuk sanggup menerima ilmu agama, karena daya terima atau kemampuan menerima ( daya dong ) setiap orang berbeda beda,sedangkan Alloh mencurahkan ilmunya kepada semua manusia tanpa pandang bulu sebagai petunjuk ( hidayah ).

Semua manusia yang diciptakan Alloh SWT lahir di muka bumi pada dasarnya mampu mempelajari, menemukan fitrah / agama Islam yang benar serta mampu melaksanakannya sehingga sewaktu-waktu dipanggil (meninggalkan dunia) dapat berhasil meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Mengapa demikian?

Ya, Alloh SWT sendiri yang menciptakan manusia pastilah sangat memahami detail konstruksinya, serta tahu persis kemampuan manusia, sehingga dalam menciptakan agama sebagai jalan keselamatan manusia, Alloh SWT sudah merancang syariat tersebut dibuat sesuai dengan batas kemampuan manusia pada umumnya.

Benar !,

Agama Islam itu mudah, selagi mengikuti petunjuk yang sudah ada. Alloh SWT sudah mengutus Rosululloh SWT untuk mengajari, membimbing serta memberikan contoh kepada manusia seluruh isi jagad raya dalam praktek beribadah.

Kesulitan biasanya timbul dalam pikiran manusia itu sendiri yang tidak mengindahkan rambu-rambu petunjuk yang sudah terpampang jelas dalam al-Quran dan sunah/al-hadis.

Hanya ada 4 (empat) golongan manusia yang sampai akhir hayatnya hidup di muka bumi tidak mampu mengerjakan perintahNya, mereka berhujah / interupsi di hadapan mahkamah Ilahi pada hari qiyamat.

Karena ke empat golongan tersebut mengajukan alasan yang “dapat diterima” maka dengan sifat maha belas kasihanNya (Ar-Rohiim) Alloh SWT berkenan memperhatikan,mempertimbangkan, yang kemudian memberi kesempatan yang terakhir, yaitu mereka disuruh melaksanakan perintah Alloh SWT , pada hari qiyamat itu juga. Allohu Akbar!.

Selain dari empat golongan tersebut, kalau sampai akhir hayat tidak mau melaksanakan perintah sesuai dengan “aturan main” yang sudah Alloh SWT tetapkan, kelak di akhirat Alloh SWT sudah tidak peduli untuk menerima alasan manusia.

“ ….sami’tu Rosulalloh SAW yaqulu : man khola’a yadan min to’atin laqiyaAlloh yaumal qiyamati laa khuj-jata lahu…al-hadits

HR Muslim Kitabul Imaroh .

Artinya “ aku (Abdulloh bin Umar) mendengar Rosululloh SAW bersabda “ barang siapa yang mencabut tangan dari ketaatan (tidak taat Alloh dan Rosul) maka nanti berjumpa kepada Alloh SWT tidak ada alasan baginya…al hadits.

Untuk itu, Saudaraku yang saya hormati

Marilah bersama, kita gunakan kemampuan pikiran kita selagi masih diberi kesempatan.

Ingat !!

penyesalan itu selalu ada di belakang.

“Lho tapi ada penyesalan di depan….hah .. apa ya?

Orang yang menarik kambing dari depannya kambing, akhirnya diseruduk pantatnya dari belakang….ha..ha J

“  ah ini intermeso lawakan gaya Rieke Dyah Pitaloka di TV…. bisa saja

Oh, ya! empat golongan yang sampai meninggal dunia tidak mampu mengerjakan perintah Alloh SWT antara lain:

Orang yang tuli, Orang gila, Orang pikun, Orang yang mati pada zaman fatroh ( masa tidak ada / belum ada utusan) Kitab Sifatil Jannati wa Nar hal.53-54 Fii Mukhtarul Adilah. (Himpunan Dalil-dalil Pilihan)

Saudara-saudaraku yang saya cintai,

Perhatikan mereka! yang tiga golongan adalah kita maklum, mereka; orang tuli, orang gila dan orang pikun diajak bicara saja susah , bagaimana mau menerima pelajaran agama ! (na’dzubillahi min dzalik).

Kalau sekarang kita diberi umur panjang, sehat, (maaf)mempunyai pikiran normal/akal sehat, kalau sampai tidak memperhatikan perintah Alloh SWT dan suri tauladan Utusan Alloh (Rosululloh SAW), pantaskah kita digolongkan bersama mereka ?

Para pembaca yang terhormat pasti tahu jawaban sendiri.

Sedangkan golongan terakhir dari empat golongan di atas adalah manusia yang hidup pada zaman fatroh yaitu zaman kekosongan utusan, setelah kerosulan Nabi Isa ‘Alaihi Salam hampir sekian lama tidak rosul, lebih kurang 600 tahun berikutnya baru Alloh SWT mengutus utusan dari kalangan kaum Qurais, Makah beliaulah Muhammad SAW.

Mereka yang hidup pada masa ini meskipun cerdas, genius tapi tetap tidak tahu agama yang benar, mereka dimaklumi oleh Alloh SWT karena memang tidak mendengar ada rosul yang mengajarkan risalah agama..

Berbeda dengan kita yang dilahirkan pada zaman akhir, masa sesudah Muhammad SAW dijadikan utusan oleh Alloh SWT dan mulai menerima wahyu yang pertama 10 Agustus 610.

Sangat disayangkan kalau pikiran kita hanya dipenuhi urusan dunia, mengejar karier, mencari harta belaka, pikiran yang begini yang akan mencelakaan diri sendiri.

Warning ! : Kita sekolah dari SD, SLTP, SLTA, Akademi/Perguruan Tinggi berapa jam, berapa tahun, pikiran kita diisi program untuk urusan meraih kehidupan layak di dunia yang sifatnya fana/sementara,

kemudian bandingkan berapa lama dalam satu minggu kita mendalami ilmu agama, membuka, memahami, merenungkan, mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dan al-Hadis untuk meraih kehidupan yang layak di akhirat yang sifatnya kekal abadi selama-lamanya?

Hal ini patutlah menjadi bahan renungan yang serius.

June 30, 2009  Tags:   Posted in: Enam Syarat Menuntut Ilmu Agama Islam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.