Konsultasi-3 : Jawaban atas Pertanyaan Sdr.Agni

Untuk Mas / Mbak Agni, Saudara mengajukan beberapa pertanyaan lewat CBOX

pada 15 Februari 2009; 10.14

Sebagai berikut :

Ada hadits yg mngatakan lebih baik trtusuk besi panas dr kepala smpai (maaf) dubur, drpd brsentuhan dgn lawan jenis yg bkn mahramnya.. 1. Prtnyaannya trkdg jk kta brtamu lalu brsalaman dgn tuan rmh yg trkdg lawan jenis, dmikian jg disaat hri raya sdgkan itu bkn mahramnya bgmn hukumnya? 2. Saya jg kurang paham siapa saja yg trmasuk mahram? 3. Bgmn hukumnya org yg mnunda sholat dikarenakan sakit? 4. Bgmn cara tayamum yg benar? Mohon dimanqulkan jg al qur’an dn al haditsnya mngenai prtnyaan sy trsbt.. Alhamdulillah, Atas amal solihnya sy ucpkan jazaakallohu khoiroh. Wa’sa

Ok ! saya akan menjawab berdasarkan dasar dalil / rujukan yang saya miliki.

Agni menulis :

Ada hadits yg mngatakan lebih baik trtusuk besi panas dr kepala smpai (maaf) dubur, drpd brsentuhan dgn lawan jenis yg bkn mahramnya.. 1. Prtnyaannya trkdg jk kta brtamu lalu brsalaman dgn tuan rmh yg trkdg lawan jenis, dmikian jg disaat hri raya sdgkan itu bkn mahramnya bgmn hukumnya?

Hari Wuryanto menjawab:

Hadits yang ada berkenaan dengan hukum menyentuh antar laki dan perempuan yang bukan mahromnya ( mahrom , bunyi “ o “ seperti pada kata “jorok”, bukan mahram) minimal ada dua buah matan (isi) hadits, salah satu diantaranya adalah Hadits Riwayat Tobroni di bawah ini:

“ la an yuth-‘ana fi ro’si ahadikum bi mikhyatin min hadidin khoirun lahu min an yamas-sa imro-atan laa tahil-lu lahu”

Maknanya : Niscaya jika ditusukkan jarum dari besi pada kepala salah satu kamu (laki-laki), maka itu lebih baik dari pada menyentuh perempuan yang bukan halalnya (mahromnya).

Demikian hukum dasarnya dan tetap tidak berubah, itulah adab pergaulan antara laki dan perempuan menurut syariat Islam. Lalu bagaimana, jika kita brtamu lalu brsalaman dgn tuan rumah yg terkadang lawan jenis, dmikian jg disaat hri raya sdgkan itu bkn mahramnya?

Inilah permasalahannya, sebagai mukmin kita tidak akan terlepas bergaul dengan orang yang belum begitu memahami hukum sesuai dengan Quran Hadits. Kita supaya tetap konsekuen tentu dengan cara yang baik, dan tidak menyinggung perasaan orang.

Mungkin bisa dicoba dengan cara –cara yang penting dapat berhasil menyelamatkan kita dari hal -hal yang dianggap remeh seperti salaman lain jenis bukan mahrom.

Contoh, kalau kita paham situasi bahwa ada yang akan mengajak salaman, nah kita dapat mencoba gaya salaman orang Sunda yaitu merapatkan kedua telapak tangan dan mendekatkan di bawah dagu sambil menunduk memberi rasa hormat, ini segera dilakukan sebelum orang tersebut mendekati kita sehingga ada jarak.

Dengan demikian insyaAlloh mereka tidak akan tersinggung dan semoga paham bahwa kita tidak bersalaman.

Bercerita tentang pengalaman yang pernah saya praktekkan, dulu ketika lebaran di kampung (pada saat awal mulai mengamalkan Quran Hadits, th 1991 awal) untuk menghindarkan dari salaman dengan lain jenis bukan mahrom saya punya trik, telapak tangan sebelah kanan saya bungkus pake kain kasa dan dibasahi betadin , ketika ada yang akan ngajak salaman dengan mudah saya menolak dan jelas alasannya “tangan sedang sakit” padahal sebenarnya tidak.

Tapi lambat laun mereka paham juga bahwa “Hari tidak mau salaman dengan perempuan” pada awalnya memang terasa berat beban mental. Tapi kita tetap sobar dan memang inilah ujian bagi setiap orang yang ingin menetapi agama secara konsekuen menjaga kemurnian ilmu agama secara teori dan praktek , mengamalkan ajaran Islam secara kaffah.

Memang perlu perjuangan, tapi sekarang alhamndulillah di lingkungan saya semua sudah pada paham karena sudah jadi kebiasaan, dan saya sudah bebas pun tenang hati.

Kita tidak perlu berkecil hati, kita supaya punya tekat yang bulat, sudah banyak yang berhasil menjaga diri dari bersalaman. Kalau kita sudah terbiasa menghormati orang lain, maka ketika suatu saat kita punya sikap yang berbeda dengan mereka, insyaAlloh tetap akan dihormati oleh mereka.

Kalaupun dengan begitu kita jadi bahan olok-olokan ya sobar, terima saja dengan lapang dada, karena memang mereka belum paham.

Nah kalau memang situasi memungkinkan, cobalah ceritakan apa yang mendasari atau alasannya sampaikan ajaran Nabi Muhamad SAW pada hadits di atas, tapi ingat itu jika memungkinkan dan yang paling penting kita tetap harus menghormati, hindari merasa angkuh paling pintar sendiri dan hindari menyalahkan orang lain.

Yang perlu saya garis bawahi, bahwa dalam kita mengamalkan perintah agama agar dijaga niatnya karena Alloh SWT, tentunya dengan sak pol kemampuan kita. Untuk itu jangan lupa berdoa memohon kepada Alloh agar kita dibimbing menuju jalan kebnaran, hati kita diberi ketabahan dan kesobaran terutama dalam hal yang kita masih merasa berat untuk menetapinya.

InsyaAlloh dengan sungguh-sungguh usaha lahir batin , lahirnya dengan mencari ilmu dan mengamalkan sedang batin kita berdoa padaNYA, Alloh sudah menjanjikan akan memberi hidayah , lihat Quran Surat Al-’Ankabut (29) : 69 ” Wal-ladziina jahadi fi na lanahdiyan-nahum subulana, wa in-nalloha lama’al muhsinin”

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (jahada) di dalam urusan (agamaKU Alloh) maka niscaya sungguh aku beri petunjuk (hidayah), dan sesungguhnya Allo beserta orang yang berbuat baik.

Nah Saudara, seberapa jauh kesungguhan kita dalam menetapi ibadah ini Alloh selalu memantaunya dan akan memberikan bimbingan hidayah bagi yang sudah menunjukkan kesungguhannya.

Dan ketika kita mulai berniat baik (mengamalkan ajaran Alloh dan Rosulnya) kita harus percaya bahwa Alloh selalu bersama dan menolong kita, jadi janganlah ragu-ragu dan kawatir, justru berbesar hati. Kita sekarang merasa berat tetapi kalau kita jalankan dengan dengan husnudhon billah mengharap ridhoNYA, di depan sana ada janji kemudahan dan pertolongan dari Alloh SWT.

Dan apabila Alloh SWT berkehendak memberikan pertolongan kepada hidup kita, itulah yang didambakan. Seorang hamba akan diberikan ketenteraman, hatinya diberi kesabaran, dimudahkan dalam segala urusan, selalu dekat dengan Alloh, setiap keluhan kita Alloh mendengarkan, tentu kita senang, bukan !

Agni menulis :

2. Saya jg kurang paham siapa saja yg trmasuk mahram?

Hari Wuryanto menjawab:

Mahrom artinya apa –apa yang harom dinikah.

Orang –orang yang mahrom dengan kita berarti hukumnya tidak boleh nikah dengan kita, tetapi boleh salaman.

Sedangkan yang bukan mahrom , secara hukum tidak boleh salaman tetapi menjadi boleh nikah (tentu kalau mau…J ) Jelas ya!

Nah, Siapa-siapa yang mahrom, silahkan dibuka Al-Quran-nya masing-masing Surat An-Nisa (no.surat 4) : (no.ayat 23)

(Ini pengertiannya saja ya) “ Diharomkan (dinikah) bagi kamu (laki-laki) (1) ibu kamu (yang melahirkan) (2).Anak perempuanmu (kandung). (3)Saudaramu perempuan . (4) Bibik kamu (sdr ayah) (5)Bibik (sdr ibu), (6) Anak perempuan dari saudara laki-lakimu(keponakan) (7) Anak perempuan dari saudara perempuanmu (keponakan), (8) Ibu susuan (yang menyusuimu minim 5 X kenyang) (9) saudara perempuan satu susuan (sama-sama menyusu ke ibu yang sama) (10) ibu mertua, (11) Anak tiri (12) Istrinya anak (menantu).

Catatan : pada Al-Quran sebagaiman tersebut di atas adalah batasan mahrom bagi laki-laki, bagaimana dengan perempuan ?.

Ya tinggal mengambil sebaliknya.

Contoh (1).Bapak (suami ibu)-(2) anak laki-laki- (3) Saudara lak-laki begitu dan seterusnya, semoga dapat dipahami.

Agni menulis :

3. Bgmn hukumnya org yg mnunda sholat dikarenakan sakit?

Hari Wuryanto menjawab:

Dalam keadaan bagaimanapun solat supaya tetap dilaksanakan pada waktunya,

QS An-Nisa’(4):103 “ Inna sholata kanat ‘alal mu’miniina kitaban mauquta”

Maknanya: Sesungguhnya solat bagi orang iman adalah (merupakan) kewajiban yang ditentukan waktunya.

Tentu saja kalau sedang sakit, maka cara solatnya dikerjakan sebatas kempauannya, duduk, terlentang, tidur miring dsb.

Jadi jangan menunda-nunda waktu, dalam situasi apapun, dimanapun kerjakan solat pada waktunya. Karena Solat adalah hubungan kita langsung kepada Alloh SWT.

Sdr.Agni menulis :

4. Bgmn cara tayamum yg benar?

Hari Wuryanto menjawab:

Cara bertayamum sebagaimana terdapat pada hadits riwayat An-Nasai Kitabusholah jus 1 hal 170-172 atau Himpunan Kitabusolah hal.20

Sebagai berikut:

- Tetap baca bismillah sebagaimana berwudhu.

- Pukulkan dua telapak tangan satu kali ke permukaan debu yang suci, tanah, pasir, tembok dll

- Mengusapkan telapak tangan satu sama lainnya satu kali gosokan.

- Mengibaskan kedua telapak tangan.

- Punggung telapak tangan kanan diusapkan ke telapak tangan kiri ( dimulai dengan menempelkan ujung jari tengah sementara telapak tangan kanan dan kiri, semua menghadap ke atas)

- Tangan kanan digerakkan maju (menggosokkan punggung telapak tangan kanan) sampai sebatas pergelangan tangan

- Kemudian gantian punggung telapak tangan kiri diusapkan ke telapak tangan kanan dst, caranya sama.

- Setelah itu kemudian mengusapkan kedua telapak angan ke wajah.

Demikian cara bertayamum, semoga dapat dimengerti.

Untuk Saudara Agni, demikian jawaban atas seluruh pertanyaan yang dapat saya berikan semoga dapat dipahami, Alloh memberi manfaat dan barokah.

Alhamndulillah Jazaakumullohu khoiro, Amin.

February 16, 2009  Tags: ,   Posted in: Konsultasi-3 : Jawaban atas pertanyaan Sdr.Agni

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.