Bahtera Nabi Nuh Alaihi Salam (part-2 tamat)

Bahtera Nabi Nuh tersebut berdimensi 1200 hasta panjang, 600 hasta lebar dan tingginya 30 hasta. Terbagi menjadi tiga lantai, lantai dasar untuk binatang , lantai kedua untuk manusia dan lantai tiga untuk burung-burung.

Atas dasar wahyu Alloh SWT, Nabi Nuh mengajak kaumnya yang beriman untuk memasuki kapal serta memuat berbagai pasang hewan.

Pada Al-Quran Surat Hud ayat 40 disebutkan: ” Hingga apabila datang perintah Kami dan tanur telah memancarkan air, Kami berfirman muatlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing sepasang hewan (jantan-betina) serta keluargamu kecuali orang yang telah terdahului ketetapan terhadapnya, dan muatlah orang-orang yang beriman. Dan tidaklah beriman kepada Nuh melainkan sedikit saja.”

Tidaklah berapa lama setelah Nabi Nuh dan seluruh pengikutnya naik kapal, langitpun menjadi hitam diiringi angin kencang bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat bagaikan dituangkan dari langit , bumipun mulai menyemburkan air sampai memenuhi selokan-selokan dataran rendah sehinggalah dataran tinggi.

Bersamaan dengan terjadinya banjir yang menenggelamkan sebagian permukaan bumi tersebut, juga terjadi peristiwa yang sangat dramatis dan memilukan. Manakala seorang ibu dengan menggendong bayi yang amat dicintainya berlari ke tempat yang lebih tinggi karena dikejar air yang semakin meninggi. Ibu dengan bayinya lari ke sebuah gunung, air pun terus naik sehingga dengan segala perjuangannya ibu itu sampai puncak gunung. Air pun seakan mengejar sehingga menggenangi puncak gunung, sang ibu mengangkat bayinya di atas pundaknya, pada waktu itu sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi sebagai penyelamatan. Ketika air terus menggenangi pundaknya, sang ibu memindahkan bayi ke aras kepalanya. Air seperti tidak mau berhenti dan ketika sudah menggenangi kepalanya, ibu pun mengangkat bayi dengan kedua tangannya di atas kepala, subhanalloh.

Kisah tentang perempuan tersebut dapat dilihat hadits Kitabul Ahkam hal.18 dalm Muhtarul Adilah.

Kejadian demikian sempat membikin Rosululloh berkomentar ” seandainya Alloh menyayangi kaum Nabi Nuh, maka niscaya Alloh akan menyayangi dan tidak akan membinasakan perempuan beserta anaknya tersebut”. Secara kemanusiaan memanglah seorang ibu dan bayinya pantas mendapat pertolongan, namun Alloh hanya menyayangi kepada hambanya, meskipun keadaannya memprihatinkan namun karena tidak beriman kepada Alloh (dengan lantaran taat kepada Nabi Nuh, waktu itu) makan kebinasaanlah sebagai riwayat terakhir.

Nabi Nuh mempunyai putra antar lain Sam, Ham, Yafits dan Kan’am. Kan’am adalah salah satu putranya yang selalu memusuhi ayahnya sendiri. Pada awal terjadi banjir, diajak oleh ayahnya untuk naik ke dalam perahu, namun tidak mau taat dan memilih bersama orang kufur lainnya mencari keselamatan ke atas puncak gunung, namun toh Alloh SWT tidak peduli, akhirnya Kan’an mati dalam kekafiran.

Jumlah penumpang kapal yang akhirnya selamat antara lain 80 orang yang berada di atas kapal selama 150 hari, Alloh mengarahkan kapal itu menuju Makah, kapalpun berputar-putar di Baitulloah selama 40 hari. Setelah itu kapal Nabi Nuh diarahkan ke Bukit Judiy dan mendarat di Souq Tsamanin -Jazirah Arab. Kejadian berlabuhnya kapal tersebut pada hari As-Syuro’ bulan Muharam, dari ke -80 penumpang itu mempunyai bahasa masing-masing, salah satunya adalah Bahasa Arab.

Dari anak Nabi Nuh yaitu Sam lahirlah bangsa Arab, Persi Romawi sedang dari Yafits lahir Ya’jud wa ma’jud, bangsa Turki dan bangsa Slaves adapun anak Ham lahirlah bangsa Qibthi, Barbor,dan Sudan.

Tamat.

(Dihimpun dari berbagai sumber)

January 5, 2009  Tags:   Posted in: Ibu dan Bayinya tenggelam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.