QS Jum’at (62): 5 “ Sebagaimana Keledai Memikul Buku Besar”
“ Matsalul-ladhiina khum-milut-taurota tsuma lam yahmilu *) ha ka matsalil khimari yakhmilu asfaro, bi’sa matsalul qoumil-ladhiina kadh-dhabu bi ayatillahi, waAllohu laa yahdil qoumadh-dholimiin “
Perumpamaan orang-orang yang dibebankan Taurot kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya *), adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (Itulah) seburuk-buruknya perumpaman kaum yang mendustakan ayat-ayat Alloh. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim.
Saudara-saudaraku,
Orang yang dibebankan Taurot adalah “al-yahudil-ladhina ‘alimut-Taurota wa kul-liffu ‘amala bi ha” = Orang-orang Yahudi (umat Nabi Musa) yang mengetahui (adanya) Kitab Taurot dan dibebankan untuk mengamalkan dengan nya.
Pengertian tsuma lam yahmilu = lam ya’malu bi ma fi ha = tidak mau mangamalkan dengan apa yang ada di dalamnya.
Sedangkan khimar = keledai, nama lain lagi “bighol” adalah hewan sejenis kuda tetapi sedikit lebih kecil, biasanya dimanfaatkan untuk alat transportasi (pengangkut barang). Kalau di daerah (Jawa Tengah) saya hampir tidak melihatnya, namun hewan ini masih banyak digunakan sebagai “porter” bagi para petualang yang mengadakan ekspedisi pendakian Gunung Himalaya, Katmandu perbatasan Cina – India.
Jadi, orang Yahudi yang ditururunkan oleh Alloh kepadanya Kitab Taurot tetapi tidak mau belajar memahami dan mengamalkan isinya, maka diumpamakan sebagaimana hewan keledai yang dibebani kitab/buku besar. Namanya juga hewan, dia tidak menyadari apapun yang dibebankan kepadanya, apalagi memahami isinya.
Si keledai tidak mengerti bahwa kitab yang dibebankan kepadanya ternyata berisi “Trik dan Tips melarikan diri dari ikatan Juragan “ atau mungkin “Jurus Rahasia / resep mudah mengubanh alang-alang kering menjadi pakan yang lezat dan bergizi”.
Pengertian apa yang ada di dalam kitab tak berpengaruh apa-apa terhadap ilmu, sikap mapun tindakan khimar.
Nah, meskipun isi gambaranannya Alloh SWT mengambil periumpamaan orang Yahudi yang pada masa itu Nabi Musa yang diutus sebagai rosulnya , namun inti pelajaran ditujukan kepada kita umat Muhammad SAW, manusia penghuni planet bumi hingga menjelang kiamat.
Lalu bagaimana dengan kita, tentunya kita tidak perlu menunggua turunnya ayat yang berbunyi “ Matsalul-ladhiina khum-milul- Qur’an tsuma lam yahmiluha ….dst
Tapi kita sudah tanggap, kita manusia diberi “kecerdasan spiritual” yang dengan panca indera dapat menangkap “signal-signal ilahi yang bertebaran di muka bumi lalu menjadikan bahan peringatan dan semakin meningkatkan rasa taqwa keada Alloh SWT.
Pada penjelasan di atas disebutkan bahwa sejelek-jeleknnya gambaran adalah manakala manusia yang diberika oleh Alloh derajat paling tinggi di antara semua makhluk (ciptaannya) tetapi disamakan dengan hewan yang rendah derajatnya.
Terlebih manusia yang diberi kitab Al-Qur’an yang agung tetapi tidak menjadikannya “bahan pembelajaran” untuk meningkatkan iman dan amal solih , maka, kelak akan Alloh kembalikan keada serendah-rendahnya derajat, sebagaimana tercetak dalam Surat At-Tin (95) : 4-6
“ La qod’ cholaq’ nal insana fii akhsani taqwim tsum-ma rodad’ na hu asfala safilina , il-la ladhiina amanu wa ‘amilus-sholihati , fa lahum ajrun ghoiru mamnun….al-ayah
Niscaya Aku (Alloh) ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk (rupa / wajah di dunia), kemudian Aku kembalikan dia ke tempat (derajat) serendah-rendahnya (di neraka) , kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih maka baginya pahala (balasan) yang tiada terputus-putus (surga).
Ok, jadi kita manusia apabila ingin bertahan dalam derajat yang baik seperti sekarang ini, maka caranya adalah menjadi orang iman dan mau beramal sholih.
Dan agar kita tidak “dianggap “ oleh Alloh sebagaimana si hewan dungu “ khimar” kita harus mau mempelajari , memahami , mengamalkan Al-Quran semaksimal kemampuan kita.
April 26, 2009
Tags: Manusia Diibaratkan Hewan Keledai Posted in: Belajar Islam Melalui Tamsil (gambaran), Tafsir Al-Quran












Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.