4 Pilar Penjaga Kemurnian Agama Islam ( Bag-1: Murni Niyat )
Kemurnian agama adalah HARGA MATI !!
Ya, kenapa ? Karena Alloh Ta’ala Yang Di atas Sana sudah berikrar tidak akan menerima amalan kecuali yang dimurnikan. Sebagaimana difirmankan dalam QS Al-Bayinah (98);5 “ Wa ma umiru il-la liya’budulloha mukhlishina lahudiina hunafa-a wa yuqimu sholata wa yu’tu zakata wa dzalika diinul qoy-yimah” = dan tidak diperintah mereka kecuali semata untuk beribadah kepada Alloh dengan memurnikan agamanya dengan condong dan menentapi sholat dan membayarkan zakat, dan demikianlah agama yang tegak (benar)”.
Beribadah dengan cara yang murni adalah perintah Alloh, sehingga kalau ada hamba beribadah dengan cara tidak murni berarti melaksanakan perintah selain dari Alloh sebutan yang paling tepat adalah musrik, disamping beribadah melaksanakan perintah Alloh juga sekaligus melakukan perintah dari selain Alloh.
Sedangkan dalam Hadits Riwayat Nasa-i , terdapat dalam Kitabul Khutbah hal.69 fii Mukhtarul Adilah.
Rosulullohi SAW bersabda “ in=nalloha laa yaq’baluminal ‘amal il-lamakana lahu mukhlishon wab’tughiya bihi waj’huh “ = sesungguhnya Alloh tidak menerima dari suatu amal kecuali amal itu dimurnikan dan dicari dengan amal itu wajah Alloh”.
Betapa rugi dan sungguh celaka kalau sampai amal kita tidak diterima (rejected) ditolak oleh Alloh SWT . Kalau tidak diterima otomatis tidak mendapatkan hasil aj’ron /pahala dan rohmat Alloh yang “mutlak” berfungsi sebagai tiket masuk surga kelak di akhirat. Sedangkan saat di akhirat hanya ada dua tempat tinggal kalau tidak masuk surga berarti masuk neraka, dan sebaliknya. Karena keadaan itu maka mau tidak mau kita harus berusaha hingga berhasil masuk surga, TIDAK ADA KOMPROMI.
Betapa pentingnya masalah ini !
Istilah Murni
Murni = kholasho, mukhlish, ikhlash. Seperti kata “ madu murni” berarti madu yang original / asli seperti yang keluar dari perut lebah, tidak ditambah tidak dikurangi.
Ibadah yang murni /mukhlish adalah cara ibadah yang asli seperti yang dicontohlan oleh Rosulullohi SAW sebagai suri tauladan dan dipraktekkan bersama para sohabat beliau .
Apakah ada kiat-kiat menjada kemurnian ibadah ? inilah Empat Pilar Penjagaan Kemurnian Agama Islam, langsung saja kita semak :
#1. Murni Niyat.
Sebelum beramal ibadah sekecil apapun maka yang dilakukan pertama kali adalah menata niyat. Dengan niyat yang berbeda meskipun amalannya sama maka akan membawa hasil yang berbeda pula. Lihatlah naskah hadits Sohih Bukhori juz 1 hal.2 Nabi Muhammad SAW bersabda “ In-namal a’malu bin-niyat wa in-nama li kul-li imri-in ma nawa fa man kanat hij’rotuhu ila dun-ya yushibuha au ila imroatin tankihu ha, fa hij’ro tuhu ila ma hajaro ilaihi”
artinya “sesungguhnya amalan (akan diperoleh hasil) tergantung niyatnya, dan sesungguhnya bagi tiap2 orang ( dia dapat) apa yang diniyati, maka barang siapa yang hijrahnya (mengikuti Nabi dari Makah ke Madinah) karena urusan keduniaan maka dia dapatkan, sedangkan yang niyat karena wanita maka dia nikahi (kalau wanitanya mau). Hijrahnya (yang didapatkan) adalah tergantung apa yang hijrah padanya (niyatnya).
Ibadah ibaratnya sekarang beramal menanam dan besuk di akhirat berharap dapat memanen hasil amal di dunia. Kalau kita beramal sekarang ini niyat dalam hati didasari ingin mendapatkan ridho dan cinta Alloh serta takut ancaman siksa Alloh, maka di akhirat kita betul-betul dapatkan apa yang diniyati itu.
Dalam kita beribadah , mentaati perintah Alloh SWT dalam alquran dan sabda Rosulillahi SAW dalam al-Hadits agar dijaga betul niyatnya karena Alloh semata, jangan tercampur niyat yang lain.
Ingatlah wasiat Rosulillahi SAW yang copy naskahnya sekarang dapat kita temukan dengan mudah di Mukhtarul Adilah Kitabul Khutbah hal.72-73.
Tulisan dalam kitab itu masih asli Arabic semua, kalau lafadznya begini : “ dan bersabda (Rosulullohi ) SAW “ in-na ma akhwafa ma atakhow-wafu ‘ala um-mati al-isyroku billahi ama in-ni latu aqulu ya’buduna syamsya wa laa qomaron wa laa watsanan wa lakin a’malan li ghoirillah wa syahwatan khofi-yah”
Artinya “ sesungguhnya apa yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah Syirik kepada Alloh , ingat sesungguhnya bukan aku berkata mereka syirik dengan menyembah matahari, dan juga bukan menyembah bulan dan bukan menyembah berhala, tetapi (syirik dengan) amalan untuk selain Alloh dan keinginan yang tersembunyi”
Subhanalloh !
Demikian jelas pernyataan “ Maha Guru” kita , pada kenyataan yang terlihat di sekitar kita , kalau sudah masuk Islam dapat dikatakan mayoritas mereka sudah meninggalkan cara penyembahan kepada berhala seperti membakar kemenyan/dupa di dekat batu besar/pohon.
Namun sering terlihat adalah orang salah niyat, dalam beribadah misalnya menjadi ta’mir masjid masih punya harapan agar “ diakui” jamaah bahwa dialah orang terkemuka, orang pandai, yang lain agar menurut apa yang dikatakan, dsb.
Ingin jadi pimpinan jamaah pengajian, ketika akhirnya tidak dijadikan pimpinan oleh “kesepakatan musyawaroh” kemudian keluar dari pengajian, membuat jamaah pengajian tandingan, bikin ulah menyerang balik, mengacau, memfitnah dsb. Itu indikasi “salah niyat”. Kalau memang niyatnya ibadah karena Alloh akan dijadikan anggota biasa ok, akan dijadikan pengurus selagi mampu ok juga, yang penting ibadahnya sampai di sisi Alloh SWT.
Ibaratnya yang penting “naik mobil” sampai tujuan yang dicanangkan sejak awal. Akan diminta tolong ikut ngurusi/daftar presensi penumpang ya gak apa, dijadikan penumpang biasa ya tidak apa.
Bersambung…
January 24, 2010
Posted in: Belajar Islam Melalui Tamsil (gambaran), Tafsir Al-Hadits












2 Responses
4 Pilar Penjaga Kemurnian Agama Islam ( Bag-2: Murni Pedoman ) | binanurani.com - February 1, 2010
[...] posting yang lalu sudah dibahas murni dalam niyat , berikut adalah murni dalam [...]
4 Pilar Penjaga Kemurnian Agama Islam ( Bag-2: Murni Cara Mengkaji ) | binanurani.com - February 17, 2010
[...] - Murni dalam niyat [...]
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.